Ilustrasi foto menasehati
Terasmuslim.com - Konsep inner child dan isu luka batin masa lalu kini semakin marak didiskusikan sebagai salah satu faktor pembentuk kepribadian seseorang.
Namun, memahami adanya luka masa lalu tidak boleh dijadikan sebagai tameng atau pembenaran atas sifat buruk yang terus dipelihara.
Dalam pandangan Islam, setiap manusia yang telah bermukalaf memiliki tanggung jawab penuh atas setiap perbuatan dan tabiat yang dipilihnya.
Allah SWT secara tegas berfirman dalam Surah Al-Muddatstsir ayat 38 bahwa setiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya.
Luka masa lalu memang dapat memengaruhi emosi, tetapi akal dan iman diberikan Allah SWT agar manusia mampu mengendalikan perilakunya.
Rasulullah SAW juga bersabda dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim bahwa orang yang kuat bukanlah yang menang bergulat, melainkan yang mampu mengendalikan dirinya saat marah.
Hadist ini menegaskan pentingnya ikhtiar personal untuk mengontrol dorongan emosi negatif daripada menyerah pada trauma masa lalu.
Menjadikan trauma sebagai alasan untuk menyakiti orang lain justru bertentangan dengan semangat pemulihan dan pembersihan jiwa (tazkiyatun nafs).
Allah SWT mengingatkan dalam Surah Ash-Shams ayat 9 bahwa sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya dari berbagai penyakit hati.
Proses pemulihan batin seharusnya mendorong seseorang untuk berbenah dan memperbaiki akhlak, bukan malah melestarikan sifat toksik.
Di Indonesia, perhatian terhadap pemulihan kesehatan mental dan penguatan kepribadian diatur secara resmi melalui regulasi pemerintah.
Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan menegaskan pentingnya upaya kesehatan jiwa secara promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif.
Regulasi negara ini mendorong masyarakat yang mengalami trauma psikologis untuk mengakses bantuan medis atau psikologis profesional guna pemulihan.
Pemerintah melalui fasilitas kesehatan hadir agar individu yang memiliki luka batin tidak dibiarkan larut hingga merusak ketertiban sosial dan keluarga.
Oleh karena itu, menyembuhkan luka batin melalui pendekatan medis dan spiritual adalah langkah bijak, sementara mempertahankan sifat buruk atas nama trauma adalah sebuah kekhilafan.