• KEISLAMAN

Memahami Luka Batin dan Inner Child Perspektif Islam

Yahya Sukamdani | Minggu, 30/08/2026
Memahami Luka Batin dan Inner Child Perspektif Islam Ilustrasi penyakit batin

Terasmuslim.com - Luka batin dan inner child dalam sudut pandang Islam memutar pada konsep kondisi kejiwaan (nafs) serta bekas luka emosional masa lalu yang belum terselesaikan.

Secara psikologis, inner child merujuk pada aspek kepribadian anak-anak yang tetap hidup dalam diri seorang dewasa, membawa memori serta kebiasaan masa kecil.

Islam mengakui bahwa setiap manusia terlahir dalam keadaan fithrah yang suci dan murni tanpa membawa dosa bawaan.

Hal ini diperkuat oleh hadis Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari: "Setiap anak dilahirkan di atas fitrah (kesucian), maka kedua orang tuarnyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi."

Pengalaman traumatis serta pengasuhan buruk di masa kecil dapat menciderai kesucian fitrah tersebut hingga membentuk benteng emosi yang terluka.

Al-Qur`an menggambarkan bahwa jiwa manusia mengalami dinamika, salah satunya adalah nafs al-ammārah bi al-sū` yang mudah terpengaruh oleh trauma dan dorongan negatif.

Allah SWT berfirman dalam Surah Yusuf ayat 53: "Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku."

Luka batin yang tidak disembuhkan sering kali bermanifestasi menjadi rasa cemas berlebih, amarah yang tak terkendali, serta hilangnya kedamaian jiwa.

Islam menawarkan metode penyembuhan jiwa (thibbal qulub) melalui pendekatan spiritual yang mendalam dan konsisten.

Langkah awal memulihkan luka batin adalah dengan melakukan dzikir dan taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah SWT untuk meraih ketenangan hati.

Sebagaimana Allah SWT berfirman dalam Surah Ar-Ra`d ayat 28: "(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah; ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram."

Proses tazkiyatun nafs atau penyucian jiwa menjadi kunci penting untuk membersihkan sisa rasa sakit, prasangka buruk, dan dendam masa lalu.

Melakukan maaf (al-`afw) kepada pihak yang pernah menyakiti di masa kecil merupakan terapi spiritual yang sangat dianjurkan dalam ajaran Islam.

Allah SWT mengingatkan keutamaan memaafkan dalam Surah Ali `Imran ayat 134: "Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan."

Mengintegrasikan ikhtiar medis atau psikologis bersama doa dan tawakal adalah manifestasi sikap mukmin yang utuh dalam meraih kesembuhan lahir dan batin.