Ilustrasi kisah inspiratif Rasulullah - lafadz Nabi Muhammad SAW (Foto: Pexels/Necati Ömer Karpuzoğlu)
Terasmuslim.com - Rasulullah SAW mengalami ujian jiwa yang amat berat ketika harus melepaskan kepergian ketiga putra belia beliau ke hadirat Allah SWT.
Putra pertama beliau, Al-Qasim, dipanggil pulang oleh Allah SWT saat masih balita ketika dakwah Islam belum dimulai di Makkah.
Duka kembali menyelimuti keluarga Nabi ketika putra keduanya, Abdullah, wafat dalam usia yang sangat muda di era kenabian.
Kafir Quraisy mengejek Rasulullah SAW sebagai abtar (orang yang terputus keturunannya) setelah seluruh putra beliau dari Khadijah RA meninggal dunia.
Allah SWT membantah celaan tersebut dan menguatkan hati Rasulullah SAW melalui firman-Nya dalam Surah Al-Kausar ayat 1–3: "Sungguh, Kami telah memberimu nikmat yang banyak. Maka laksanakanlah shalat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah. Sungguh, orang-orang yang membencimu dialah yang terputus."
Di kota Madinah, Rasulullah SAW kembali diuji dengan wafatnya Ibrahim, putra beliau dari rahim Maria al-Qibthiyyah yang baru berusia 18 bulan.
Kesedihan mendalam menyelimuti hati Rasulullah SAW hingga meneteskan air mata di hadapan para sahabat yang mendampinginya.
Rasulullah SAW mengajarkan batas keharuan yang dibolehkan dalam Islam sebagaimana diriwayatkan dalam hadits Bukhari: "Mata menangis dan hati bersedih, tetapi kami tidak mengatakan kecuali apa yang diridhai Rabb kami."
Beliau juga menegaskan bahwa duka cita tidak boleh diiringi dengan ratapan berlebihan atau tindakan yang merusak iman.
Ketika terjadi gerhana matahari pada hari wafatnya Ibrahim, masyarakat mengaitkan fenomena alam tersebut dengan duka cita sang Nabi.
Rasulullah SAW langsung meluruskan kesalahpahaman tersebut dalam hadits riwayat Bukhari: "Matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kekuasaan Allah, keduanya tidak mengalami gerhana karena mati atau hidupnya seseorang."
Keteguhan sikap Rasulullah SAW membuktikan kepatuhan mutlak seorang hamba kepada takdir dan ketetapan Ilahi.
Al-Qur`an mengingatkan bahwa setiap jiwa pasti akan merasakan mati dalam Surah Ali `Imran ayat 185: "Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan hanya pada hari Kiamat sajalah diberikan sempurna balasanmu."
Ujian berat ini menunjukkan bahwa tingginya kedudukan seorang Nabi tidak membebaskannya dari takdir musibah dan perpisahan di dunia.
Kisah wafatnya putra-putra Nabi memberikan pelajaran berharga bagi umat Islam untuk senantiasa bersabar, ridha, dan menguatkan iman saat menghadapi ketetapan Allah SWT.