Ilustrasi - Riya adalah melakukan ibadah atau kebaikan dengan tujuan agar dilihat, dipuji, atau mendapatkan pengakuan dari manusia (Foto: AI)
Jakarta, Terasmuslim.com - Dalam Islam, niat menjadi bagian penting dalam setiap amal.
Ibadah yang dilakukan bukan semata-mata karena Allah SWT dapat kehilangan nilai keikhlasannya ketika disertai keinginan untuk mendapatkan pujian atau perhatian dari manusia.
Ali bin Abi Thalib memberikan nasihat tentang bahaya riya. Ia berkata:
اعْلَمُوا أَنَّ يَسِيرَ الرِّيَاءِ شِرْكٌ
Artinya: “Ketahuilah bahwa sedikit saja riya’ (pamer) adalah syirik.”
Nasihat tersebut tercantum dalam Nahj al-Balagha, Khutbah 86.
Pesan ini mengingatkan bahwa riya merupakan perkara yang perlu diwaspadai karena dapat masuk ke dalam amal seseorang tanpa disadari.
Riya adalah melakukan ibadah atau kebaikan dengan tujuan agar dilihat, dipuji, atau mendapatkan pengakuan dari manusia.
Karena itu, seseorang perlu menjaga niat sejak sebelum melakukan amal hingga setelahnya.
Kalimat sedikit saja riya dalam nasihat tersebut menunjukkan pentingnya memperhatikan niat, termasuk dalam perkara yang dianggap kecil.
Amal yang terlihat baik di hadapan manusia tetap perlu disertai keikhlasan karena tujuan utama ibadah adalah mencari ridha Allah SWT.
Menjaga keikhlasan bukan berarti seseorang tidak boleh diketahui ketika melakukan kebaikan.
Yang perlu diperhatikan adalah tujuan di balik amal tersebut. Jika amal dilakukan untuk Allah, pujian manusia bukan menjadi tujuan utama.
Nasihat ini menjadi pengingat agar setiap Muslim terus memperbaiki niat dan tidak menjadikan ibadah sebagai sarana mencari popularitas.
Sebab, kualitas amal tidak hanya dilihat dari apa yang tampak, tetapi juga dari niat yang ada di dalam hati.