• KEISLAMAN

Menjaga Hati dari Jebakan Pujian Manusia

Yahya Sukamdani | Sabtu, 19/09/2026
Menjaga Hati dari Jebakan Pujian Manusia Ilustrasi foto menampakan kesombongan

Terasmuslim.com - Manusia secara tabiat fithri memang merasa senang ketika mendapatkan sanjungan atau apresiasi dari sesamanya.

Rasulullah SAW menyebutkan bahwa pujian yang datang tanpa dicari adalah kabar gembira yang disegerakan bagi seorang mukmin (HR. Muslim).

Namun, ujian sejati terletak pada kemampuan menjaga arah niat agar sanjungan tersebut tidak berbalik menjadi tujuan utama dalam beramal.

Ketika pujian mulai diburu dan dijadikan tolok ukur kepuasan hati, di situlah benih penyakit riya mulai tumbuh merusak tatanan keikhlasan.

Islam mengajarkan bahwa setiap amal kebaikan yang dikerjakan manusia harus berlandaskan niat yang murni semata-mata karena Allah SWT.

Allah SWT telah menegaskan perintah ikhlas ini dalam Surah Al-Bayyinah ayat 5 yang berbunyi, “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus.”

Niat yang ternoda oleh keinginan untuk dilihat atau dipuji makhluk berisiko menggugurkan nilai pahala ibadah di sisi-Nya.

Rasulullah SAW sangat mengkhawatirkan bahaya laten ini dan menyebutnya sebagai bentuk syirik kecil yang sering tak disadari.

Dalam hadits riwayat Ahmad, Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya yang paling aku khawatiri atas kalian adalah syirik kecil,” lalu para sahabat bertanya dan beliau menjawab, “Yaitu riya.”

Ancaman bagi orang yang beramal hanya demi mendapatkan apresiasi manusia juga digambarkan dengan tegas dalam Al-Qur`an.

Surah Al-Ma`un ayat 4–6 mengingatkan, “Maka celakalah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, yang berbuat riya.”

Menjaga kesucian niat membutuhkan pengawasan diri yang berkelanjutan sebelum, saat, dan setelah suatu amal dilaksanakan.

Apabila apresiasi atau sanjungan hadir tanpa diminta, seorang muslim hendaknya bersyukur sekaligus memohon perlindungan agar tidak sombong.

Fokus utama seorang hamba seharusnya tertuju pada keridaan Sang Pencipta, bukan pada penilaian manusia yang bersifat semu dan dinamis.

Dengan senantiasa memperbarui niat, setiap ibadah yang kita kerjakan akan tetap bernilai istimewa dan terjaga dari kebinasaan di akhirat kelak.