Ilustrasi foto dakwah Islam
Terasmuslim.com - Para ulama salaf senantiasa berusaha menyembunyikan amal kebaikan dan ilmu mereka karena sangat takut akan bahaya popularitas serta ketenaran.
Mereka memandang bahwa kemasyhuran di mata manusia dapat dengan mudah mengotori kesucian niat dan merusak keikhlasan dalam beribadah.
Banyak ulama besar yang menangis saat majelis ilmunya mulai dipenuhi banyak orang karena khawatir timbulnya rasa bangga diri.
Sikap hati-hati ini berlandaskan pada perintah Allah SWT agar manusia senantiasa memurnikan seluruh niat ketaatan hanya kepada-Nya.
Sebagaimana Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Bayyinah ayat 5: Wa ma umiru illa liy`budullaha mukhlishina lahud-din (Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam menjalankan agama).
Sebagian ulama bahkan memilih untuk berpindah tempat atau menghentikan pengajaran saat dirinya mulai dielu-elukan oleh masyarakat luas.
Mereka lebih memilih dikenal oleh penghuni langit daripada menjadi sosok yang dipuja-puja oleh para penduduk bumi.
Prinsip hidup yang memprioritaskan ketulusan niat ini sejalan dengan ajaran Rasulullah SAW mengenai kedudukan niat dalam setiap amalan.
Rasulullah SAW bersabda dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim: Innamal-a`malu bin-niyyat wa innama likullimri`in ma nawa (Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan).
Keikhlasan yang murni menjadikan karya-karya tulisan mereka tetap bertahan dan memberikan manfaat mendalam hingga berabad-abad kemudian.
Mereka meyakini bahwa popularitas yang dikejar di dunia hanyalah kenikmatan semu yang dapat mengikis pahala di akhirat kelak.
Integritas moral ini menjaga para ulama dari godaan harta, jabatan, serta intervensi penguasa yang ingin memanfaatkan pengaruh mereka.
Keteladanan para ulama ini memberikan teguran keras bagi kita yang sering kali terjebak dalam pencarian pengakuan dan pujian manusia.
Kisah kehidupan mereka mengajarkan bahwa kemuliaan sejati terletak pada keridaan Allah SWT, bukan pada banyaknya pengagum di dunia.
Semoga Umat Islam senantiasa dianugerahi keikhlasan hati serta dijauhkan dari sifat riya dan haus popularitas dalam setiap amal kebaikan.