• SOSOK

Mengenal Rabiah al-Adawiyah, Figur Sufi Perempuan dari Basra

M. Habib Saifullah | Selasa, 08/09/2026
Mengenal Rabiah al-Adawiyah, Figur Sufi Perempuan dari Basra Ilustrasi Rabiah al-Adawiyah (Foto: Wikipedia)

Terasmuslim.com - Dalam peta sejarah peradaban Islam abad ke-8 Masehi di Basra, Irak, nama Rabiah al-Adawiyah menempati posisi istimewa sebagai salah satu tokoh sufi perempuan paling berpengaruh.

Ia mashur sebagai pencetus doktrin mahabbah, sebuah konsep ibadah yang dilandasi oleh rasa kasih dan cinta murni kepada Allah SWT, lepas dari belenggu kecemasan terhadap siksa neraka maupun pamrih akan kenikmatan surga.

Kendati tumbuh dalam himpitan kemiskinan dan sempat berstatus sebagai budak, keteguhan iman serta kedalaman ilmunya menempatkan Rabiah sebagai sosok teladan bagi para ulama dan ahli tasawuf pada masanya.

Lahir dari keluarga kurang mampu sebagai putri keempat, yang menjadi asal-usul penamaannya, Rabiah harus kehilangan kedua orang tuanya di usia muda. Saat krisis kelaparan melanda Basra, ia terpisah dari saudara-saudaranya hingga nasib membawanya menjadi seorang budak sahaya.

Meskipun terikat status perbudakan, Rabiah tak pernah melalaikan ibadah dan konsisten mendirikan salat malam. Kekhusyukan serta ketulusannya dalam menyembah Allah membuat sang majikan tersentuh, hingga akhirnya memberikan kebebasan kepadanya.

Pasca-merdeka, Rabiah memilih jalan hidup ascetism (zuhud) dengan memusatkan seluruh waktunya untuk berzikir, berpuasa, dan bertafakur. Ketajaman pemahaman spiritualnya menarik perhatian banyak cendekiawan dan ahli ibadah untuk datang menimba ilmu kepadanya.

Pilar utama ajaran Rabiah bertumpu pada pemurnian motivasi beribadah. Ia menegaskan bahwa penghambaan seorang manusia sepatutnya didasari atas cinta tulus karena Sang Pencipta memang Mahalayak untuk disembah, bukan sekadar kalkulasi pahala dan dosa.

Guna menjaga keteguhan fokusnya dalam beribadah, Rabiah memilih untuk tidak berkeluarga seumur hidup dan menolak secara santun berbagai lamaran dari kalangan terpandang. Ia juga menerapkan gaya hidup yang amat bersahaja serta enggan menimbun harta duniawi.

Rabiah al-Adawiyah menghembuskan napas terakhirnya sekitar tahun 801 Masehi di Basra. Warisan pemikirannya mengenai cinta ilahi terus menjadi fondasi penting dalam kajian tasawuf dan tetap dipelajari hingga era modern saat ini.