Ilustrasi foto Al quran pedoman hidup Muslim
Terasmuslim.com - Ukuran kebaikan dan keburukan yang hakiki tidak ditentukan oleh hawa nafsu manusia, melainkan oleh ketetapan Allah dan Rasul-Nya.
Sesuatu dianggap sebagai kebaikan apabila dipandang baik dan diridhai oleh Allah Subhanahu wa Ta`ala serta diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu `Alaihi wa Sallam.
Sebaliknya, keburukan adalah segala tindakan, ucapan, maupun niat yang dipandang buruk dan dilarang oleh syariat Islam.
Konsep ini menegaskan bahwa akal manusia memiliki keterbatasan dalam menentukan nilai moral yang mutlak tanpa bimbingan wahyu.
Allah menegaskan kedudukan wahyu sebagai penentu kebenaran dalam Surah Al-Baqarah ayat 216: “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”
Oleh karena itu, seorang muslim hendaknya menjadikan standar Al-Qur`an dan Sunnah sebagai tolok ukur utama dalam menilai segala aspek kehidupan.
Rasulullah memberikan panduan praktis untuk mengenali kebaikan dan keburukan melalui ketenangan jiwa dan suara hati seorang mukmin.
Dalam hadis riwayat Muslim, Rasulullah bersabda: “Kebaikan adalah akhlak yang baik, sedangkan dosa (keburukan) adalah apa yang meragukan dalam dadamu dan engkau benci jika manusia mengetahuinya.”
Tunduk kepada tolok ukur syariat merupakan bukti nyata dari keimanan yang sempurna bagi setiap hamba.
Allah melarang umat-Nya untuk mengambil standar moral yang bertentangan dengan petunjuk-Nya sebagaimana ditegaskan dalam Surah Al-Ahzab ayat 36.
Dalam ayat tersebut Allah berfirman: “Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka.”
Menjalankan kebaikan yang diridhai Allah akan membawa keberkahan dan ketenangan hidup di dunia maupun di akhirat.
Sementara melanggar batasan syariat dengan melakukan keburukan hanya akan mendatangkan kerugian serta penyesalan yang mendalam.
Setiap muslim dituntut untuk terus memperdalam ilmu agama agar mampu membedakan antara al-haq dan al-bathil secara jernih.
Dengan berpegang teguh pada standar Allah dan Rasul-Nya, tatanan moral masyarakat akan terjaga dalam koridor ketakwaan yang hakiki.