Ilustrasi istri mengeluhkan suami
Terasmuslim.com - Benar adanya bahwa Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam pernah memperingatkan bahaya seorang istri yang meminta cerai tanpa alasan syari.
Hadits riwayat Abu Daud dan Ibnu Majah tersebut menegaskan bahwa wanita yang meminta cerai tanpa sebab yang dibenarkan agama diharamkan mencium bau surga.
Namun, teks hadits ini tidak semestinya dijadikan senjata tunggal untuk menyalahkan pihak istri secara sepihak tanpa melihat akar permasalahan rumah tangga.
Suami perlu mengingat kembali momen awal pernikahan ketika orang tua sang istri menyerahkan putri mereka sepenuhnya dengan penuh kepercayaan.
Proses khitbah dan akad nikah berlangsung atas inisiatif suami yang melamar tanpa ada paksaan maupun intimidasi dari pihak mana pun.
Saat mengucapkan ijab kabul, seorang suami secara sadar telah menerima kewajiban serta beban kepemimpinan yang dilimpahkan kepadanya.
Ketika badai rumah tangga datang hingga istri mengajukan gugatan, mungkin inilah saat yang tepat bagi suami untuk melakukan introspeksi diri secara mendalam.
Allah Subhanahu wa Ta`ala menegaskan kewajiban suami untuk memperlakukan istri secara patut dalam Surah An-Nisa ayat 19:
Wā `āsyirūhunna bil-ma`rūf.(Dan bergaullah dengan mereka secara patut).
Pemimpin rumah tangga yang baik adalah sosok yang mampu mengevaluasi apakah nafkah lahir dan batin telah tertunaikan dengan adil dan adab yang baik.
Nabi shallallahu `alaihi wasallam juga mengingatkan ukuran kebaikan seorang laki-laki dalam hadits riwayat Tirmidzi:
"Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap istrinya, dan aku adalah yang paling baik di antara kalian terhadap istriku."
Alasan syari yang membolehkan gugatan cerai (khulu`) telah diatur dalam Islam, seperti suami yang menelantarkan kewajiban, berbuat zalim, atau melakukan maksiat berat.
Islam menganjurkan jalan ishlah atau perdamaian sebelum mengambil keputusan berpisah, sebagaimana dianjurkan dalam Surah An-Nisa ayat 35.
Istri yang menuntut haknya akibat kelalaian suami tidak termasuk dalam kategori wanita yang diancam dalam hadits ancaman bau surga tersebut.
Menjaga keutuhan rumah tangga memerlukan kesadaran dua arah, di mana suami memimpin dengan kasih sayang dan istri mentaati dalam kebaikan.