• KISAH

Kisah Pemilik Dua Kebun Dan Penyesalan Kesombongan Harta

Yahya Sukamdani | Senin, 19/10/2026
Kisah Pemilik Dua Kebun Dan Penyesalan Kesombongan Harta Ilustrasi foto kisah pemilik kebun yang menyesal

Terasmuslim.com - Al-Qur`an mengabadikan perumpamaan mengenai dua orang laki-laki sebagai pelajaran berharga tentang bahaya kesombongan atas harta dunia.

Salah satu dari mereka dianugerahi dua buah kebun anggur yang indah, dikelilingi pohon-pohon kurma, serta ladang tanaman yang subur.

Di tengah-tengah kedua kebun tersebut, Allah SWT mengalirkan sungai untuk memudahkan pengairan dan menambah kesuburan tanahnya.

Limpahan rezeki dan hasil panen yang melimpah justru membuat pemilik kebun tersebut menjadi congkak serta terbuai oleh kemewahan.

Ia dengan sombong membanggakan kekayaannya di hadapan saudaranya yang beriman namun hidup dalam keterbatasan harta.

Al-Qur`an merekam ucapan kesombongannya saat ia memasuki kebunnya dengan sikap zalim terhadap dirinya sendiri.

Allah SWT berfirman: “Dan dia memasuki kebunnya dengan sikap zalim terhadap dirinya sendiri; dia berkata, ‘Aku kira kebun ini tidak akan binasa selama-lamanya.’” (QS. Al-Kahfi [18]: 35).

Tidak hanya membanggakan harta, kesombongannya bahkan membawanya pada keraguan akan datangnya hari kebangkitan dan pembalasan.

Saudaranya yang beriman dengan penuh kasih sayang dan ketegasan mengingatkan agar ia tidak mengingkari Pencipta yang melahirkannya.

Ia menasihati agar pemilik kebun senantiasa mengucapkan Masya Allah Laa Quwwata Illa Billah atas segala nikmat yang diterima.

Nasihat bijak saudaranya diabadikan dalam Al-Qur`an pada Surah Al-Kahfi ayat 39 sebagai pedoman bersyukur bagi setiap Muslim.

Allah SWT berfirman: “Dan mengapa ketika engkau memasuki kebunmu tidak mengucapkan ‘Masya Allah, laa quwwata illa billah’ (sungguh, atas kehendak Allah, semua ini terwujud, tidak ada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah)?” (QS. Al-Kahfi [18]: 39).

Namun, peringatan dan nasihat tulus tersebut diabaikan hingga akhirnya azab Allah SWT datang menghancurkan seluruh kebunnya tanpa sisa.

Pemilik kebun itu hanya bisa membolak-balikkan kedua tangannya penuh penyesalan atas kekayaan yang telah musnah terbakar dalam sekejap.

Kisah ini menegaskan bahwa harta adalah ujian sementara dan ketakwaan adalah modal utama yang bernilai abadi di sisi Allah SWT.