Ilustrasi sombong
Terasmuslim.com - Abu Lahab, yang bermakna "bapak kobaran api", memiliki nama asli Abdul Uzza bin Abdul Muthalib dan merupakan paman dari Nabi Muhammad SAW.
Meskipun memiliki hubungan kekerabatan yang sangat dekat, Abu Lahab justru menjadi salah satu penentang paling keras terhadap dakwah Islam.
Ketika Rasulullah SAW mengumpulkan suku Quraisy di Bukit Shafa untuk menyampaikan risalah tauhid, Abu Lahab secara terbuka mencaci dan menghina beliau.
Sikap permusuhan yang sangat tajam ini memicu turunnya wahyu khusus yang mengutuk tindakan serta kesombongan Abu Lahab.
Firman Allah SWT dalam Surah Al-Masad ayat 1 menegaskan kebinasaannya: “Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan benar-benar binasa dia!”
Segala harta benda, kedudukan sosial, dan pengaruh yang dimilikinya sama sekali tidak mampu menyelamatkannya dari siksa Allah.
Keterangan mengenai sia-sianya harta Abu Lahab diabadikan dalam Surah Al-Masad ayat 2: “Tidaklah berguna baginya hartanya dan apa yang dia usahakan.”
Tak hanya berjuang sendirian, Abu Lahab dibantu oleh istrinya, Ummu Jamil, yang aktif menyebarkan fitnah dan merintangi jalur dakwah Nabi.
Atas perbuatan buruk mereka, Allah SWT menjanjikan balasan berupa siksa neraka yang menyala-nyala bagi Abu Lahab dan istrinya.
Kebetulan dan peristiwa di Bukit Shafa tersebut diabadikan dalam hadis riwayat Shahih Bukhari (No. 4971) yang meriwayatkan latar belakang turunnya Surah Al-Masad.
Rasulullah SAW senantiasa bersabar menghadapi gangguan fisik dan mental yang dilancarkan oleh pamannya sendiri demi menegakkan kalimat tauhid.
Permusuhan Abu Lahab menjadi bukti nyata bahwa ikatan nasab dan pertalian darah tidak menjamin seseorang mendapatkan hidayah Allah SWT.
Prinsip ini selaras dengan firman Allah SWT dalam Surah Al-Qasas ayat 56 yang menegaskan bahwa manusia tidak dapat memberi hidayah kepada orang yang dicintainya.
Abu Lahab akhirnya tewas secara mengenaskan akibat penyakit parah tak lama setelah kekalahan kaum kafir Quraisy dalam Perang Badar.
Kisah Abu Lahab menjadi peringatan abadi bagi seluruh umat manusia akan bahaya kesombongan dan penolakan terhadap kebenaran ilahi.