• KEISLAMAN

Aktivitas Sehari-hari yang Tanpa Disadari Bisa Mengurangi Pahala

Vaza Diva Fadhillah Akbar | Jum'at, 16/10/2026
Aktivitas Sehari-hari yang Tanpa Disadari Bisa Mengurangi Pahala Ilustrasi - aktivitas sehari-hari yang membuat pahala Anda mengurang dalam Al-Qur`an (Foto: Ist)

Jakarta, Terasmuslim.com - Sejumlah kebiasaan sehari-hari yang dianggap biasa ternyata dapat mengurangi nilai pahala seseorang jika dilakukan tanpa memperhatikan ajaran Islam.

Mulai dari membicarakan keburukan orang lain, menyakiti perasaan sesama, hingga beribadah demi mendapatkan pujian, perilaku tersebut perlu dihindari agar amal kebaikan tidak kehilangan nilainya.

Islam tidak hanya mengajarkan umatnya untuk memperbanyak ibadah, tetapi juga menjaga perkataan, sikap, dan niat dalam kehidupan sehari-hari.

Sebab, kebaikan tidak cukup diukur dari banyaknya amal yang dilakukan, tetapi juga dari ketulusan dan cara seseorang memperlakukan orang lain.

Salah satu perilaku yang perlu diwaspadai adalah membicarakan keburukan orang lain atau ghibah. Kebiasaan ini sering muncul dalam percakapan sehari-hari, bahkan dianggap sebagai bahan candaan. Padahal, Allah SWT telah mengingatkan umat Islam agar menjauhi perbuatan tersebut dalam Surah Al-Hujurat ayat 12.

Allah SWT berfirman:

وَلَا يَغْتَبْ بَّعْضُكُمْ بَعْضًا ۗ اَيُحِبُّ اَحَدُكُمْ اَنْ يَّأْكُلَ لَحْمَ اَخِيْهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوْهُ

Artinya: “Dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik.” (QS. Al-Hujurat: 12)

Ayat tersebut menunjukkan betapa seriusnya larangan membicarakan keburukan orang lain. Karena itu, seorang Muslim perlu berhati-hati ketika berbicara, terutama saat membahas kekurangan seseorang yang tidak hadir dalam percakapan.

Kebiasaan lain yang patut dihindari adalah menyakiti orang lain melalui perkataan. Ejekan, hinaan, fitnah, dan ucapan kasar dapat menimbulkan luka serta merusak hubungan antarmanusia.

Perbuatan tersebut juga dapat menjadi sumber dosa, meskipun pelakunya menganggapnya sekadar candaan.

Rasulullah SAW memberikan peringatan tentang pentingnya menjaga lisan. Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim, beliau bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

Artinya: “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis tersebut mengajarkan bahwa seorang Muslim hendaknya mempertimbangkan manfaat perkataannya sebelum berbicara. Jika ucapan berpotensi menyakiti, menghina, atau memicu permusuhan, menahan diri menjadi pilihan yang lebih baik.

Selain menjaga lisan, umat Islam juga perlu memperhatikan niat ketika beramal. Melakukan kebaikan semata-mata untuk memperoleh pujian atau pengakuan manusia dapat mengancam keikhlasan.

Perilaku ini berkaitan dengan riya, yakni melakukan ibadah atau menunjukkan amal agar dilihat dan dipuji orang lain.

Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Ma`un ayat 4–6:

فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّيْنَ ۙ الَّذِيْنَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُوْنَ ۙ الَّذِيْنَ هُمْ يُرَاۤءُوْنَ

Artinya: “Maka celakalah orang yang salat, (yaitu) orang-orang yang lalai terhadap salatnya, yang berbuat ria.” (QS. Al-Ma`un: 4–6)

Ayat ini menjadi peringatan agar ibadah tidak dijadikan sarana untuk mencari pengakuan manusia. Pujian bukanlah tujuan utama beramal, melainkan keridaan Allah SWT yang seharusnya menjadi landasan setiap ibadah dan kebaikan.

Perbuatan lain yang juga perlu diperhatikan adalah mengungkit pemberian dan menyakiti hati orang yang menerima bantuan.

Sedekah yang seharusnya menjadi bentuk kepedulian dapat kehilangan nilai pahalanya apabila disertai sikap menyombongkan diri atau merendahkan penerima.

Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 264:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تُبْطِلُوْا صَدَقٰتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْاَذٰى

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu merusak sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan penerima).” (QS. Al-Baqarah: 264)

Ayat tersebut menegaskan pentingnya menjaga adab setelah memberikan bantuan. Sedekah bukan sekadar menyerahkan harta, tetapi juga menjaga martabat orang yang menerima agar tidak merasa direndahkan atau dipermalukan.

Berbagai peringatan tersebut menunjukkan bahwa menjaga pahala bukan hanya berkaitan dengan memperbanyak ibadah ritual. Umat Islam juga perlu memperbaiki perilaku, menjaga lisan, meluruskan niat, serta memperlakukan orang lain dengan baik.