Ilustrasi bahtera Nabi Nuh AS (Foto: Kompas)
Terasmuslim.com - Istri Nabi Nuh AS menjadi pelajaran penting dalam sejarah Islam bahwa kedekatan fisik dengan utusan Allah tidak otomatis mendatangkan keselamatan akhirat.
Meskipun hidup bersama seorang Nabi pilihan yang mendakwahkan tauhid selama ratusan tahun, ia memilih untuk menolak seruan kebenaran tersebut.
Allah SWT mengabadikan perumpamaan ini secara jelas dalam Al-Qur`an Surah At-Tahrim ayat 10 sebagai peringatan bagi orang-orang kafir.
Dalam Surah At-Tahrim ayat 10, Allah SWT menjelaskan bahwa istri Nabi Nuh dan istri Nabi Lut berada di bawah perlindungan dua hamba-Nya yang saleh namun keduanya berkhianat.
Bentuk pengkhianatan yang dimaksud bukanlah pengkhianatan kehormatan, melainkan penolakan terhadap akidah dan dakwah tauhid yang dibawakan oleh suaminya.
Kedudukan serta kemuliaan status seorang suami yang saleh sama sekali tidak mampu membentengi dirinya dari azab Allah ketika keimanan absen di hati.
Dalam Al-Qur`an Surah At-Tahrim ayat 10 ditegaskan bahwa kedua suami mereka tidak dapat menolak azab Allah sedikit pun untuk menyelamatkan istri-istri mereka.
Rasulullah SAW mengingatkan pentingnya beramal secara mandiri dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim saat beliau menyeru kerabat terdekatnya untuk menyelamatkan diri dari api neraka.
Dalam hadis shahih tersebut, Nabi Muhammad SAW menegaskan bahwa beliau tidak bisa membela siapa pun di hadapan Allah tanpa adanya amal dan keimanan pribadi.
Fenomena ini menegaskan hakikat hidayah sebagai hak prerogatif Allah SWT yang tidak bisa dipaksakan bahkan oleh para nabi tercinta.
Sebagaimana firman Allah SWT dalam Surah Al-Qasas ayat 56 bahwa manusia tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang dicintainya, melainkan Allah yang memberi hidayah.
Kisah istri Nabi Nuh memberikan ikhtibar berharga agar setiap individu tidak bersikap jumawa hanya karena memiliki garis keturunan atau keluarga yang saleh.
Setiap jiwa akan mempertanggungjawabkan seluruh perbuatannya sendiri di hadapan Mahkamah Ilahi tanpa bergantung pada kemuliaan orang lain.
Sebagaimana penegasan Allah SWT dalam Surah An-Najm ayat 38 bahwa seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain.
Kisah monumental ini mengedukasi Umat Islam untuk terus memohon hidayah dan memperkuat kualitas keimanan pribadi tanpa pernah menggantungkan keselamatan pada kebaikan orang sekitarnya.