• KEISLAMAN

Kisah Penolak Nasihat, Pembangkangan yang Berujung Kerugian Hakiki

Yahya Sukamdani | Jum'at, 16/10/2026
Kisah Penolak Nasihat, Pembangkangan yang Berujung Kerugian Hakiki Ilustrasi Qorun dibenamkan ke bumi (foto: muslimidia)

Terasmuslim.com - Kisah penolakan terhadap kebenaran dan nasihat kebaikan bukanlah hal baru dalam sejarah peradaban manusia.

Dalam literatur Islam, salah satu contoh nyata penolak nasihat yang paling membekas adalah kisah Qarun pada zaman Nabi Musa AS.

Qarun yang awalnya merupakan sosok biasa, kemudian dilimpahi kekayaan melimpah hingga kunci-kunci perbendaharaan bahannya begitu berat untuk diangkat.

Masyarakat dan para ulama saat itu telah berulang kali memberikan nasihat agar Qarun tidak sombong serta tetap membagikan hartanya di jalan Allah.

Nasihat tersebut diabadikan dalam Surah Al-Qasas ayat 77: "Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi."

Namun, bukannya sadar dan bersyukur, Qarun justru menolak nasihat jujur itu dengan kesombongan yang teramat sangat.

Ia merasa seluruh kekayaan dan keberhasilan yang didapatkannya semata-mata karena kecerdasan serta usahanya sendiri.

Sikap angkuh tersebut direkam jelas dalam Surah Al-Qasas ayat 78, di mana ia menyatakan bahwa harta itu diberikan kepadanya hanya karena ilmu yang miliki.

Akibat dari keangkuhan dan penolakan terhadap nasihat kebaikan tersebut, Allah SWT menimpakan azab yang sangat mengerikan.

Allah membenamkan Qarun beserta seluruh harta kekayaannya ke dalam bumi hingga tak ada satu pun yang sanggup menolongnya.

Peristiwa tragis ini menjadi pelajaran berharga bahwa menolak kebenaran yang disampaikan orang lain adalah bentuk kesombongan yang nyata.

Rasulullah SAW secara tegas mengingatkan bahaya sikap ini dalam sebuah hadits riwayat Muslim: "Kesombongan adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia."

Ketika seseorang menutup rapat hatinya dari nasihat baik, ia sebetulnya sedang berjalan menuju jurang kehancuran dirinya sendiri.

Setiap Muslim hendaknya senantiasa memelihara sifat tawadhu (rendah hati) agar selalu siap menerima teguran dan masukan yang meluruskan langkahnya.

Semoga kita semua terhindar dari penyakit hati yang keras dan selalu dibimbing untuk menjadi hamba yang lapang dada dalam menerima kebenaran.