Ilustrasi - menerima kebenaran (Foto: AI)
Jakarta, Terasmuslim.com - Di tengah kehidupan yang kerap menempatkan gengsi, status, dan citra diri sebagai ukuran kehormatan, sebuah pesan dari Ja`far ash-Shadiq, salah satu keturunan dari Nabi Muhammad SAW menawarkan pandangan yang berbeda tentang makna kemuliaan sejati.
Menurut beliau, kehormatan seseorang tidak terletak pada kemampuannya mempertahankan pendapat atau kedudukannya, melainkan pada kesediaannya tunduk kepada kebenaran.
Dalam sebuah hadis disebutkan:
الْعِزُّ أَنْ تَذِلَّ لِلْحَقِّ
"Kemuliaan itu adalah engkau merendahkan diri kepada kebenaran ketika engkau mengetahuinya." (Bihar al-Anwar, Jilid 75, hlm. 228)
Hadis singkat tersebut mengandung pesan moral yang mendalam. Imam Ja`far ash-Shadiq mengajarkan bahwa seseorang tidak akan kehilangan kehormatan ketika mengakui kebenaran, sekalipun kebenaran itu datang dari orang yang lebih muda, lebih rendah kedudukannya, atau bahkan dari pihak yang sebelumnya berbeda pendapat dengannya.
Dalam kehidupan sehari-hari, tidak sedikit orang yang sulit menerima kebenaran karena khawatir kehilangan wibawa atau merasa gengsinya terluka.
Akibatnya, kesalahan dipertahankan dan perdebatan terus berlanjut meskipun fakta sudah jelas terlihat. Padahal, dalam pandangan Islam, keberanian mengakui kebenaran merupakan salah satu tanda kematangan akhlak dan kekuatan karakter.
Pesan hadis ini juga relevan di era media sosial, ketika banyak orang berlomba mempertahankan opini dan mencari pembenaran atas pandangannya sendiri.
Tidak jarang diskusi yang seharusnya menjadi sarana mencari kebenaran justru berubah menjadi ajang mempertahankan ego. Dalam kondisi seperti itu, sikap rendah hati untuk menerima fakta dan mengoreksi diri menjadi semakin penting.
Para ulama menjelaskan bahwa merendahkan diri kepada kebenaran bukan berarti merendahkan martabat.
Sebaliknya, sikap tersebut merupakan bentuk kemuliaan karena menunjukkan bahwa seseorang lebih mencintai kebenaran daripada kepentingan pribadinya. Orang yang demikian tidak terikat oleh ego, melainkan berpegang pada apa yang benar.
Sepanjang sejarah, banyak tokoh besar dihormati bukan karena mereka tidak pernah salah, tetapi karena mereka berani mengakui kesalahan dan kembali kepada kebenaran ketika mengetahuinya. Sikap inilah yang menjadikan mereka dihargai oleh masyarakat dan dikenang lintas generasi.
Melalui hadis ini, Ja`far ash-Shadiq mengingatkan bahwa kemuliaan sejati tidak lahir dari kesombongan atau keinginan untuk selalu menang.
Kemuliaan justru muncul ketika seseorang mampu mengalahkan egonya dan menerima kebenaran dengan lapang dada.