Ilustrasi Sunni dan Syiah (Foto: Ist)
Terasmuslim.com - Perbedaan antara Sunni dan Syiah merupakan salah satu isu sensitif dalam dunia Islam yang telah berlangsung lebih dari 14 abad. Meski sama-sama bersyahadat dan berpegang pada Al-Qur`an, dua kelompok besar dalam Islam ini memiliki perbedaan mendasar dalam hal sejarah, kepemimpinan, dan penafsiran ajaran agama. Lantas, bagaimana sebenarnya awal mula munculnya perbedaan ini?
Perpecahan antara Sunni dan Syiah tidak bermula dari masalah akidah atau ibadah, melainkan dari persoalan politik, terutama menyangkut suksesi kepemimpinan setelah wafatnya Nabi Muhammad ﷺ pada tahun 632 Masehi. Saat itu, umat Islam dihadapkan pada pertanyaan besar: siapa yang paling berhak memimpin umat setelah Rasulullah wafat?
Sebagian sahabat, yang kemudian menjadi cikal bakal Sunni, berpendapat bahwa pemimpin harus dipilih melalui musyawarah. Maka dari itu, mereka membaiat Abu Bakar Ash-Shiddiq sebagai khalifah pertama. Pilihan ini didukung oleh mayoritas sahabat dan diterima secara luas oleh umat.
Namun sebagian kelompok lain, yang kemudian dikenal sebagai Syiah (Syi’at Ali), meyakini bahwa kepemimpinan umat Islam seharusnya diberikan kepada Ali bin Abi Thalib, sepupu sekaligus menantu Nabi. Mereka berpegang pada keyakinan bahwa Nabi telah memberikan isyarat khusus tentang keutamaan dan kelayakan Ali sebagai penerusnya, baik secara spiritual maupun politis.
Ketegangan semakin tajam setelah wafatnya Utsman bin Affan (khalifah ketiga), yang diikuti oleh kekhalifahan Ali bin Abi Thalib. Masa pemerintahan Ali diwarnai konflik besar, termasuk Perang Jamal dan Perang Shiffin, yang memperuncing perbedaan politik dan memperluas jurang pemisah antara dua kelompok tersebut.
Puncak luka sejarah terjadi saat peristiwa Karbala tahun 680 M, di mana cucu Nabi Muhammad, Husain bin Ali, terbunuh bersama keluarganya oleh pasukan Khalifah Yazid dari Dinasti Umayyah. Tragedi ini menjadi simbol penderitaan dan ketidakadilan bagi kelompok Syiah, serta memperkuat narasi perlawanan terhadap kekuasaan yang dianggap zalim.
Seiring waktu, perbedaan yang awalnya bersifat politik berkembang menjadi perbedaan teologis dan fikih. Sunni dan Syiah memiliki perbedaan dalam hal sumber hukum, tokoh panutan, hingga ritual keagamaan. Sunni mengakui empat mazhab utama (Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali), sedangkan Syiah, terutama cabang Itsna Asyariyah (Syiah Dua Belas Imam), berpegang pada kepemimpinan para Imam yang dianggap maksum (terjaga dari dosa).
Meski memiliki sejarah kelam dan perbedaan yang signifikan, baik Sunni maupun Syiah sama-sama merupakan bagian dari Islam. Banyak ulama dan tokoh dunia Islam modern yang menyerukan dialog, toleransi, dan ukhuwah untuk menjembatani perbedaan demi persatuan umat.