Ilustrasi foto sapi betina
Terasmuslim.com - Kisah sapi betina Bani Israil merupakan salah satu narasi paling ikonik yang diabadikan dalam Al-Qur`an untuk umat manusia.
Peristiwa ini bermula ketika terjadi kasus pembunuhan misterius di kalangan Bani Israil yang memicu perselisihan besar antar suku.
Untuk menyelesaikan pertikaian tersebut, Nabi Musa AS memerintahkan kaumnya menyembelih seekor sapi atas petunjuk langsung dari Allah SWT.
"Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya, `Sesungguhnya Allah memerintahkan kamu menyembelih seekor sapi betina...`" (QS. Al-Baqarah: 67).
Bukannya langsung menaati perintah yang sederhana itu, Bani Israil malah mengajukan banyak pertanyaan yang mempersulit diri mereka sendiri.
Mereka mulai mempertanyakan umur sapi, warna kulit, hingga karakteristik khusus dari hewan yang harus dikorbankan tersebut.
Sikap banyak bertanya dan enggan tunduk ini mencerminkan penyakit hati berupa pembangkangan tersembunyi terhadap otoritas kenabian.
Rasulullah SAW dalam sebuah hadis mengingatkan agar umatnya menghindari perilaku buruk kaum terdahulu yang gemar memperdebatkan perintah nabi mereka.
"Apa yang aku larang bagi kalian, maka jauhilah, dan apa yang aku perintahkan, maka lakukanlah semampu kalian..." (HR. Bukhari dan Muslim).
Akibat terus menunda dan mencari alasan, Bani Israil akhirnya harus membayar harga yang sangat mahal untuk menemukan sapi yang dimaksud.
Ketika kriteria sapi yang sangat spesifik itu akhirnya terpenuhi, mereka menyembelihnya meskipun dengan rasa enggan dan keterpaksaan yang nyata.
Bagian dari tubuh sapi tersebut kemudian dipukulkan ke jasad korban pembunuhan, yang atas izin Allah langsung hidup kembali untuk mengungkap pelaku aslinya.
Mukjizat nyata ini menjadi tamparan keras sekaligus pelajaran berharga tentang kekuasaan mutlak Allah SWT atas hidup dan mati.
Pelajaran terbesar dari kisah ini adalah bahwa ketaatan sejati menuntut kepatuhan yang tulus tanpa disertai alasan berbelit-belit.
Semoga umat Islam saat ini mampu mengambil iktibar agar senantiasa bersikap sami`na wa atha`na terhadap segala syariat dan ketetapan-Nya.