Ilustrasi - lafadz Nabi Muhammad SAW (Foto: Pexels/Necati Ömer Karpuzoğlu)
Jakarta, Terasmuslim.com - Bulan Safar merupakan bulan kedua dalam kalender Hijriah yang masih sering dikaitkan dengan berbagai mitos di tengah masyarakat.
Sebagian orang meyakini Safar sebagai bulan yang identik dengan kesialan atau waktu yang kurang baik untuk memulai suatu pekerjaan. Namun, jika menelusuri sejarah kehidupan Rasulullah SAW, anggapan tersebut tidak memiliki landasan dalam ajaran Islam.
Justru, berbagai peristiwa penting dalam perjalanan hidup Nabi Muhammad SAW berlangsung pada bulan Safar. Mulai dari pernikahan, hijrah, perjalanan dakwah, hingga ekspedisi yang memperkuat posisi umat Islam.
Para ulama juga mengingatkan bahwa Rasulullah SAW telah membatalkan keyakinan jahiliah mengenai kesialan bulan Safar melalui sabdanya.
Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW bersabda:
"Tidak ada penyakit yang menular dengan sendirinya, tidak ada thiyarah (anggapan sial), tidak ada hamah, dan tidak ada kesialan pada bulan Safar."
Hadis tersebut menjadi dasar bahwa bulan Safar tidak berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Berikut sejumlah kisah Rasulullah SAW yang berkaitan dengan Safar.
Salah satu peristiwa paling monumental dalam sejarah Islam adalah hijrah Rasulullah SAW dari Makkah menuju Madinah.
Menurut berbagai kitab Sirah Nabawiyah, perjalanan hijrah dimulai pada akhir bulan Safar tahun ke-14 kenabian. Rasulullah bersama Abu Bakar Ash-Shiddiq meninggalkan Makkah secara sembunyi-sembunyi setelah kaum Quraisy merencanakan pembunuhan terhadap beliau.
Sebelum menuju Madinah, keduanya bersembunyi selama tiga malam di Gua Tsur. Dari perjalanan inilah kemudian lahir peradaban Islam di Madinah yang menjadi titik balik perkembangan dakwah.
Peristiwa besar tersebut menunjukkan bahwa Rasulullah justru memulai perjalanan penting pada bulan Safar, bukan menghindarinya karena dianggap membawa kesialan.
Sejumlah riwayat sejarah menyebutkan bahwa Rasulullah SAW menikahi Sayyidah Khadijah binti Khuwailid pada bulan Safar sebelum beliau diangkat menjadi nabi.
Saat itu Nabi Muhammad berusia sekitar 25 tahun, sedangkan Khadijah berusia 40 tahun. Pernikahan tersebut menjadi salah satu peristiwa paling berpengaruh dalam kehidupan Rasulullah karena Khadijah menjadi pendamping sekaligus orang pertama yang membenarkan kerasulan beliau.
Fakta sejarah ini sekaligus membantah anggapan bahwa bulan Safar tidak baik digunakan untuk melangsungkan akad nikah.
Pada Safar tahun kedua Hijriah, Rasulullah SAW memimpin ekspedisi militer pertama yang dikenal sebagai Perang Al-Abwa atau Waddan.
Meski tidak terjadi pertempuran besar, ekspedisi tersebut menghasilkan perjanjian damai dengan Bani Dhamrah. Peristiwa ini menjadi tonggak awal strategi pertahanan negara Islam di Madinah sekaligus memperlihatkan kepemimpinan Rasulullah dalam menjaga keamanan umat.
Pada tahun ketiga Hijriah, Rasulullah kembali melakukan perjalanan bersama ratusan sahabat menuju wilayah Najd untuk menghadapi ancaman dari Kabilah Ghathafan.
Ekspedisi yang dikenal sebagai Perang Dzu Amr itu berlangsung pada bulan Safar. Meskipun tidak terjadi peperangan besar, perjalanan tersebut menunjukkan kesiapsiagaan umat Islam dalam menghadapi berbagai ancaman keamanan.
Perang Khaibar merupakan salah satu kemenangan penting umat Islam yang penyelesaiannya terjadi pada bulan Safar tahun ketujuh Hijriah.
Pasukan Muslim berhasil menguasai benteng-benteng Khaibar setelah menghadapi perlawanan yang cukup kuat. Keberhasilan tersebut memperkuat posisi negara Islam di Madinah sekaligus mengakhiri ancaman dari pihak yang berulang kali melanggar perjanjian.
Keberhasilan besar ini kembali menjadi bukti bahwa bulan Safar bukanlah bulan yang membawa kesialan.
Sejarah juga mencatat bahwa Amr bin Ash memeluk Islam pada bulan Safar tahun kedelapan Hijriah.
Masuk Islamnya tokoh Quraisy yang dikenal cerdas dalam strategi militer itu menjadi salah satu momentum penting bagi perkembangan dakwah Islam. Di kemudian hari, Amr bin Ash menjadi salah satu panglima yang berperan besar dalam penyebaran Islam ke berbagai wilayah.
Selain berbagai peristiwa besar, kehidupan Rasulullah juga dipenuhi perjalanan untuk berdagang, berdakwah, memimpin pasukan, menyelesaikan persoalan umat, hingga menjalin hubungan dengan berbagai kabilah Arab.
Tidak pernah ada riwayat yang menunjukkan Rasulullah menunda perjalanan hanya karena memasuki bulan Safar. Sebaliknya, beliau mengajarkan agar setiap perjalanan diawali dengan doa, bertawakal kepada Allah SWT, serta memperbanyak amal saleh.
Bahkan dalam tradisi Islam dikenal anjuran melaksanakan salat sunah safar sebelum melakukan perjalanan jauh sebagai bentuk memohon perlindungan kepada Allah SWT.