Ilustrasi foto Muthawif umrah dan haji
Terasmuslim.com - Amanah muthawif menjadi kunci keberhasilan pelayanan haji dan umrah, karena ia berhadapan langsung dengan ibadah dan keselamatan jamaah. Pihak travel tidak bisa menilai amanah hanya dari penampilan atau pengakuan pribadi, tetapi harus melalui ukuran yang jelas dan syar’i. Islam mengajarkan bahwa amanah adalah sifat dasar yang harus diuji dan dibuktikan. Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya Allah menyuruh kalian menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya” (QS. An-Nisa: 58).
Salah satu cara utama pihak travel mengetahui muthawif amanah adalah melalui rekam jejak (track record). Konsistensi dalam kejujuran, ketepatan waktu, dan tanggung jawab pada tugas-tugas sebelumnya menjadi indikator penting. Dalam Al-Qur’an disebutkan, “Sesungguhnya orang terbaik yang engkau ambil untuk bekerja adalah yang kuat lagi terpercaya” (QS. Al-Qashash: 26). Ayat ini menjadi prinsip dasar seleksi SDM dalam Islam: kompeten dan amanah.
Selain rekam jejak, amanah muthawif juga dinilai dari pemahaman agama dan komitmennya terhadap Al-Qur’an dan Sunnah. Muthawif yang amanah tidak mengajarkan amalan tanpa dalil dan tidak menyesatkan jamaah. Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa menyeru kepada petunjuk, maka ia mendapat pahala seperti pahala orang yang mengikutinya” (HR. Muslim). Ini menunjukkan bahwa bimbingan yang benar adalah bagian dari amanah besar.
Pihak travel juga dapat menilai amanah muthawif dari akhlak dan interaksinya dengan jamaah. Kesabaran, kejujuran, dan kelembutan dalam membimbing menjadi cerminan keimanan. Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya orang yang paling aku cintai di antara kalian adalah yang paling baik akhlaknya” (HR. Bukhari). Akhlak mulia merupakan tanda nyata amanah yang hidup dalam diri seseorang.
Cara berikutnya adalah melalui musyawarah dan rekomendasi dari pihak yang terpercaya. Islam menganjurkan tabayyun dan saling menasihati dalam kebaikan. Allah Ta’ala berfirman, “Dan tolong-menolonglah kalian dalam kebajikan dan takwa” (QS. Al-Ma’idah: 2). Rekomendasi dari ulama, senior muthawif, atau jamaah sebelumnya menjadi sumber penilaian yang objektif.
Pada akhirnya, pihak travel harus menyertai semua ikhtiar tersebut dengan doa dan tawakal kepada Allah. Karena hakikat amanah adalah urusan hati yang hanya Allah Maha Mengetahui. Rasulullah SAW mengajarkan doa, “Ya Allah, tunjukilah kami kepada akhlak yang paling baik” (HR. Muslim). Dengan usaha yang benar dan doa yang tulus, pihak travel berharap Allah memilihkan muthawif yang amanah demi terjaganya ibadah tamu-tamu-Nya.