Ilustrasi foto acara ratiban Haji
Terasmuslim.com - Tradisi ratiban atau doa bersama sering mewarnai keberangkatan calon jemaah haji di berbagai penjuru nusantara.
Secara terminologi, ratib merupakan rangkaian zikir dan doa yang disusun untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Islam sangat menganjurkan umatnya untuk memperbanyak zikir, sebagaimana perintah Allah dalam Surah Al-Ahzab ayat 41.
Namun, Rasulullah SAW tidak pernah memberikan instruksi khusus mengenai ritual "ratiban" tertentu sebagai syarat mutlak keberangkatan haji.
Ibadah yang paling sesuai sunnah sebelum safar adalah menunaikan salat sunnah safar sebanyak dua rakaat di rumah.
Salat safar memiliki landasan kuat dalam hadis riwayat Thabrani sebagai bekal terbaik bagi seorang musafir.
Acara kumpul-kumpul doa bersama dapat dipandang sebagai bentuk silaturahmi yang bernilai pahala selama tidak dianggap sebagai kewajiban agama.
Surah Al-Maidah ayat 2 menekankan pentingnya tolong-menolong dalam kebajikan dan takwa melalui doa dari para kerabat.
Esensi dari berkumpulnya keluarga adalah untuk saling memaafkan dan mendoakan keselamatan serta kemabruran ibadah haji.
Kita harus berhati-hati agar acara ratiban tidak terjebak dalam praktik riya atau sekadar pamer kemewahan acara.
Nabi SAW bersabda dalam hadis riwayat Muslim bahwa siapa yang mengada-ada dalam urusan agama maka amalannya tertolak.
Jika ratiban dipahami sebagai adat atau kebiasaan baik untuk memohon doa restu, maka hal tersebut masuk dalam kategori mubah.
Penting bagi calon jemaah haji untuk memprioritaskan persiapan manasik dan pembersihan hati daripada sekadar seremoni.
Pastikan bahwa tidak ada keyakinan bahwa tanpa ratiban, maka ibadah haji seseorang menjadi tidak sah atau tidak mabrur.
Kesempurnaan haji bergantung pada keikhlasan niat dan kepatuhan terhadap rukun serta wajib haji sesuai tuntunan Rasulullah.