Ilustrasi foto idola di sosmed
Terasmuslim.com - Sikap berlebihan atau ghuluw dalam mengagumi tokoh tertentu merupakan penyakit hati yang sangat berbahaya bagi akidah.
Sejarah mencatat bahwa awal mula perbuatan syirik di muka bumi terjadi akibat pengagungan berlebihan terhadap orang-orang saleh.
Allah Subhanahu wa Ta`ala melarang tegas sikap melampaui batas ini dalam Surah An-Nisa ayat 171 agar umat tidak tersesat.
Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam juga pernah bersabda mengingatkan umatnya untuk menjauhi sikap ghuluw dalam beragama.
Dalam hadits riwayat An-Nasa`i, beliau menegaskan bahwa sikap berlebihan telah menghancurkan umat-umat sebelum kalian.
Beliau Nabi Muhammad shallallahu `alaihi wa sallam bahkan melarang keras umatnya menyanjung beliau secara melampaui batas.
Sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Rasulullah meminta agar beliau dipanggil sebagai hamba Allah dan rasul-Nya saja.
Mencintai ulama dan tokoh pembawa kebaikan adalah hal mulia, namun tetap harus berada dalam batasan syariat yang lurus.
Menganggap seorang tokoh bebas dari dosa atau ma`shum selain para nabi merupakan bentuk kekeliruan pemikiran yang nyata.
Allah berfirman dalam Surah Al-Ma`idah ayat 77 agar umat Islam tidak berlebih-lebihan dengan cara yang tidak benar.
Sikap fanatisme fanatik yang membabi buta dapat membutakan mata hati seseorang dari kebenaran hakiki yang datang dari Al-Quran.
Setiap manusia selain nabi dan rasul pasti pernah berbuat salah dan tidak wajar untuk disembah maupun diagungkan bagai tuhan.
Menjadikan perkataan manusia sebagai hukum mutlak di atas firman Allah adalah bentuk penyimpangan akidah yang sangat fatal.
Islam mengajarkan kita untuk bersikap adil, moderat, dan senantiasa menempatkan segala sesuatu pada porsi yang semestinya.
Semoga Allah membimbing hati kita agar senantiasa mencintai tokoh kebaikan secara wajar tanpa jatuh ke dalam perangkap pengkultusan.