• KEISLAMAN

Pemimpin Adil Raih Kedudukan Mulia Menurut Islam

Yahya Sukamdani | Senin, 20/07/2026
Pemimpin Adil Raih Kedudukan Mulia Menurut Islam Ilustrasi Keadilan dalam Alquran (Foo: Tafsir Alquran)

Terasmuslim.com - Kepemimpinan dalam pandangan Islam bukanlah sebuah fasilitas kekuasaan, melainkan amanah berat yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban.

Seorang pemimpin yang mampu menegakkan keadilan di tengah masyarakat dijanjikan kedudukan yang sangat mulia di sisi Allah.

Allah Subhanahu wa Ta`ala memberikan penegasan mengenai perintah bersikap adil ini dalam Al-Qur`an Surat An-Nahl ayat 90.

"Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan." (QS. An-Nahl: 90).

Penghargaan tertinggi bagi penguasa yang lurus juga ditegaskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam sebuah hadist riwayat Muslim.

"Sesungguhnya orang-orang yang berlaku adil di sisi Allah berada di atas mimbar-mimbar dari cahaya, di sebelah kanan Yang Maha Pengasih." (HR. Muslim).

Keadilan seorang pemimpin diukur dari sejauh mana ia mampu mendistribusikan hak-hak rakyat tanpa memandang bulu atau tebang pilih.

Di Indonesia, prinsip luhur kepemimpinan yang adil ini telah diinternalisasi ke dalam sila kelima Pancasila yang berbunyi Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

Pemerintah menyusun berbagai regulasi seperti Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik untuk memastikan hak dasar warga negara terpenuhi dengan setara.

Ketika seorang kepala daerah atau pejabat negara menjalankan regulasi tersebut dengan jujur, ia sesungguhnya sedang mengimplementasikan nilai syariat.

Sebaliknya, Islam memberikan peringatan keras terhadap pemimpin yang mempersulit urusan rakyatnya atau bertindak sewenang-wenang demi kepentingan pribadi.

Kesejahteraan sosial yang merata hanya akan tercipta apabila para pemegang kekuasaan tunduk pada supremasi hukum yang berlaku di tanah air.

Setiap kebijakan publik yang dilahirkan wajib berorientasi pada kemaslahatan umat, bukan pada keuntungan segelintir kelompok atau oligarki.

Kedudukan mulia di akhirat kelak hanya akan diberikan kepada mereka yang menjadikan kekuasaan sebagai sarana ibadah dan perlindungan bagi kaum lemah.

Melalui kepemimpinan yang bersih dan berintegritas, keberkahan dari langit dan bumi akan dicurahkan bagi sebuah bangsa yang beriman.

Oleh karena itu, mendukung lahirnya pemimpin yang adil adalah ikhtiar kolektif demi mewujudkan tatanan negara yang maju sekaligus diridai-Nya.