Ilustrasi bencana alam
Terasmuslim.com - Bencana alam merupakan salah satu bentuk ujian serta tanda kekuasaan Allah yang terjadi di bumi.
Setiap musibah yang menimpa manusia telah tertulis dalam Kitab Lauhulmahfuz jauh sebelum bumi diciptakan.
Allah menegaskan hakikat musibah kehidupan ini melalui firman-Nya dalam Al-Quran Surah Al-Hadid ayat 22.
Bagi seorang Muslim yang beriman, wafat akibat bencana alam bukanlah kehinaan melainkan jalan menuju kemuliaan.
Masyarakat yang meninggal dunia akibat tertimpa reruntuhan bangunan bencana alam dikategorikan sebagai korban mati syahid.
Keutamaan ini ditegaskan oleh Rasulullah dalam hadis sahih riwayat Bukhari dan Muslim tentang lima golongan syahid.
Istilah shahibul hadm atau orang yang meninggal tertimpa reruntuhan menjadi salah satu poin utama dalam hadis tersebut.
Selain itu, korban wafat akibat banjir atau terbawa arus air juga mendapatkan pahala syahid kategori al-ghariq.
Penetapan status syahid ini merupakan bukti kasih sayang serta rahmat Allah yang sangat luas bagi hamba-Nya.
Meskipun meraih pahala syahid di akhirat, jenazah korban bencana alam tetap wajib diurus secara syariat Islam.
Pemulasaraan jenazah seperti memandikan, mengafani, menyolatkan, dan memakamkan tetap berlaku apabila jasadnya berhasil ditemukan.
Apabila kondisi jasad tidak memungkinkan atau hilang, kewajiban menyolatkan diganti dengan pelaksanaan shalat gaib.
Rasulullah memberikan teladan pelaksanaan shalat gaib sebagaimana diriwayatkan dalam Sahih Bukhari saat menyolatkan Raja Najasyi.
Ketabahan keluarga yang ditinggalkan dalam menghadapi musibah bencana alam akan membuah ganjaran pahala yang melimpah.
Semoga para korban musibah bencana alam mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah sebagai para syuhada.