Ilusrasi - Kisah Nabi Muhammad meminta hujan saat kemarau panjang (Foto: Islami)
Terasmuslim.com - Musim kemarau panjang dan kekeringan merupakan ujian alam yang pernah dihadapi oleh masyarakat Madinah pada masa Rasulullah SAW.
Ketika sumber air mengering, tanaman layu, dan hewan ternak mulai bergelimpangan akibat kekurangan makanan, umat Islam saat itu berbondong-bondong memohon pertolongan kepada Allah SWT melalui perantara doa Nabi Muhammad SAW.
Salah satu kisah paling masyhur mengenai peristiwa memohon hujan (istisqa) ini diriwayatkan dalam kitab Sahih Bukhari dan Muslim melalui sahabat Anas bin Malik RA. Peristiwa tersebut terjadi di Masjid Nabawi ketika Rasulullah SAW sedang menyampaikan khutbah Jumat.
Saat Rasulullah SAW sedang berdiri memberikan khutbah di atas mimbar, seorang laki-laki musafir masuk ke dalam masjid. Pria tersebut berdiri dan langsung menyela khutbah seraya berseru, "Wahai Rasulullah, harta benda telah binasa, hewan ternak mati, dan jalan-jalan terputus karena kekeringan. Berdoalah kepada Allah agar Dia menurunkan hujan untuk kami."
Mendengar keluhan dan penderitaan rakyatnya, Nabi Muhammad SAW tidak marah meskipun khutbahnya terinterupsi.
Beliau lantas menghentikan sejenak khutbahnya, mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi ke arah langit hingga terlihat warna putih dari ketiak beliau, lalu melafalkan doa memohon hujan kepada Allah SWT.
Para sahabat yang hadir di masjid menyaksikan langsung bagaimana kondisi langit Madinah saat itu. Sebelum doa dilafalkan, langit di atas Kota Madinah sangat cerah tanpa ada segumpal awan pun, bahkan Gunung Sal` yang berada di dekat Madinah terlihat jelas tanpa penghalang.
Namun, tidak lama setelah Rasulullah SAW menurunkan kedua tangannya, dari balik Gunung Sal` bermunculan awan tebal yang dengan cepat menyebar dan menggumpal di atas langit Madinah.
Awan hitam tersebut kemudian menutupi seluruh Kota Madinah dan hujan deras pun langsung mengguyur wilayah tersebut.
Hujan yang turun bukan sekadar gerimis tipis, melainkan hujan lebat yang terus-menerus membasahi daratan Madinah.
Dalam riwayat disebutkan bahwa hujan tersebut berlangsung tiada henti selama satu pekan penuh, dari hari Jumat tersebut hingga Jumat pekan berikutnya.
Pada Jumat berikutnya, ketika Rasulullah SAW kembali menyampaikan khutbah, orang yang sama (atau dalam riwayat lain orang lain) kembali berdiri di depan Nabi. Kali ini, ia mengadukan kondisi yang berbalik dari pekan sebelumnya.
Ia menyampaikan bahwa pemukiman warga mulai terendam air, rumah-rumah terancam rusak, dan jalur transportasi lumpuh akibat curahan hujan yang tidak kunjung reda. Pria tersebut kembali meminta Nabi berdoa agar hujan dihentikan.
Rasulullah SAW tersenyum mendengarnya, lalu kembali mengangkat kedua tangannya seraya berdoa:
"Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami, bukan di atas kami. Ya Allah, curahkanlah hujan ini di atas bukit-bukit, gunung-gunung, lembah-lembah, dan tempat-tempat tumbuhnya pepohonan."
Seketika setelah doa tersebut diucapkan, awan tebal di atas Kota Madinah terbelah dan bergeser mengelilingi batas kota seperti membentuk lingkaran. Kota Madinah pun kembali terang oleh sinar matahari, sementara wilayah pinggiran dan perbukitan di sekitarnya tetap menerima curahan air yang dibutuhkan untuk mengairi lahan pertanian dan lembah-lembah.
Peristiwa ini menjadi salah satu penanda penting dalam fikih Islam mengenai tata cara dan adab memohon hujan saat melanda kekeringan.