• KEISLAMAN

Pertemuan Nabi Ibrahim AS dan Azar Saat Kiamat

Yahya Sukamdani | Rabu, 09/09/2026
Pertemuan Nabi Ibrahim AS dan Azar Saat Kiamat Ilustrasi dosa dan amal

Terasmuslim.com - Pertemuan antara Nabi Ibrahim `alaihissalam dan ayahnya, Azar, pada hari kiamat menjadi salah satu peristiwa paling mengharukan dalam literatur Islam.

Azar menghabiskan seluruh usianya di dunia dalam keadaan menyembah berhala serta menolak ajakan ketauhidan yang disampaikan oleh putranya sendiri.

Allah Subhanahu wa Ta`ala mengabadikan penolakan keras Azar tersebut dalam Surah Maryam ayat 46 ketika ia mengancam akan merajam Nabi Ibrahim.

Meskipun mendapat penolakan kasar, Nabi Ibrahim tetap memohonkan ampunan bagi ayahnya selama Azar masih hidup di dunia sebagai bentuk bakti seorang anak.

Sikap santun dan doa Nabi Ibrahim ini tercatat jelas dalam Surah At-Taubah ayat 114 sebagai pemenuhan janji beliau kepada sang ayah.

Ketika hari kiamat tiba, Allah Subhanahu wa Ta`ala mempertemukan kembali Kekasih-Nya ini dengan Azar dalam kondisi yang amat mengenaskan.

Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam meriwayatkan dalam Hadis Riwayat Bukhari bahwa Nabi Ibrahim akan bertemu Azar yang wajahnya hitam kelam berdebu.

Dalam pertemuan tersebut, Nabi Ibrahim mengingatkan ayahnya tentang teguran dan ajakan kebaikan yang dulu selalu diabaikan semasa hidup di dunia.

Azar yang penuh penyesalan kemudian berjanji tidak akan lagi mendurhakai putranya, namun kesempatan untuk beriman telah sepenuhnya sirna.

Nabi Ibrahim lantas memohon kepada Allah agar tidak dihinakan pada hari berbangkit sebagaimana diabadikan dalam Surah Ash-Shu`ara ayat 87-89.

Namun Allah Subhanahu wa Ta`ala menegaskan aturan tegas-Nya bahwa surga telah diharamkan bagi orang-orang kafir yang mati dalam kemusyrikan.

Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam menjelaskan bahwa Azar kemudian diubah wujudnya menjadi seekor hyaena (dhabu`) yang kotor dan berlumut.

Hewan tersebut lalu dipegang pada kakinya dan dilemparkan ke dalam kobaran api neraka di hadapan Nabi Ibrahim `alaihissalam.

Kisah ikatan nasab ini mengajarkan bahwa pertalian darah sama sekali tidak dapat menyelamatkan seseorang dari azab Allah tanpa adanya iman.

Pelajaran besar bagi umat Islam adalah pentingnya memprioritaskan akidah di atas segalanya serta memanfaatkan kesempatan hidayah selagi hidup di dunia.