Ilustrasi foto mengingat kematian
Terasmuslim.com - Dunia Islam kembali berduka setiap kali seorang ulama besar dipanggil menghadap Sang Pencipta.
Kehilangan sosok ulama bukan sekadar duka bagi keluarga yang ditinggalkan, melainkan musibah besar bagi seluruh umat Islam.
Para ulama adalah benteng keilmuan dan penunjuk jalan di tengah gulitanya penyimpangan moral serta pemikiran.
Meninggalnya para pewaris nabi ini menjadi pertanda utama tercabutnya ilmu agama secara perlahan dari muka bumi.
Fenomena keprihatinan ini telah diingatkan oleh Rasulullah SAW dalam sebuah hadis shahih riwayat Imam Bukhari dan Muslim.
Beliau bersabda: "Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dengan mencabutnya langsung dari dada manusia, melainkan dengan mewafatkan para ulama." (HR. Bukhari & Muslim).
Hadist tersebut menegaskan bahwa ketika ulama telah tiada, manusia akan kehilangan rujukan hukum Islam yang otoritatif dan sahih.
Al-Qur`an juga memberikan isyarat tentang berkurangnya kebaikan di bumi melalui pengurangan para ahli ilmu dalam Surah Ar-Ra`d ayat 41.
Allah SWT berfirman: "Dan apakah mereka tidak melihat bahwa Kami mendatangi negeri-negeri, lalu Kami kurangi luasnya dari ujung-ujung negeri itu?" (QS. Ar-Ra`d: 41).
Mayoritas ahli tafsir seperti Ibnu Abbas menjelaskan bahwa pengurangan tersebut bermakna kematian para ulama dan fuqaha.
Ketika ruang ilmu ditinggalkan oleh ahlinya, para pemandu bodoh akan mengambil alih panggung kepemimpinan dan fatwa.
Masyarakat akhirnya bertanya dan meminta petunjuk agama kepada orang-orang yang tidak memiliki kedalaman ilmu Syar`i.
Akibatnya, mereka memberikan fatwa tanpa landasan ilmu hingga akhirnya menyesatkan diri sendiri dan orang lain.
Tersebarnya kebodohan agama secara masif inilah yang menjadi pemicu timbulnya berbagai fitnah dan kerusakan di akhir zaman.
Oleh karena itu, mari kita manfaatkan waktu untuk menuntut ilmu serta memuliakan para ulama yang masih ada bersama kita.