Ilustrasi foto sedang mengobrol dengan tetangga
Terasmuslim.com - Melihat keberhasilan dan kebahagiaan orang lain terkadang memicu riak kecil di dalam hati manusia yang kurang bersyukur.
Dalam kehidupan bermasyarakat, fenomena merasa tidak nyaman atas kenyamanan yang didapatkan oleh tetangga masih sering kita jumpai.
Sikap tidak senang melihat orang lain bahagia dan berharap nikmat tersebut hilang disebut dengan hasad atau iri hati.
Islam secara tegas melarang umatnya memelihara penyakit hati ini karena dapat merusak tatanan hubungan sosial antarwaktu.
Allah Subhanahu wa Ta`ala telah mengingatkan larangan ini secara langsung di dalam Al-Qur`an Surat An-Nisa ayat 32.
"Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebagian kamu lebih banyak dari sebagian yang lain." (QS. An-Nisa: 32).
Ayat tersebut menjadi peringatan keras agar kita selalu ridha terhadap segala ketentuan dan pembagian rezeki dari-Nya.
Setiap manusia telah ditetapkan porsi rezeki masing-masing oleh Allah Ta`ala tanpa pernah ada yang tertukar.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga mengingatkan dampak buruk hasad yang bisa menghanguskan seluruh amal kebaikan kita.
"Jagalah dirimu dari sifat hasad, karena sesungguhnya hasad itu memakan kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar." (HR. Abu Dawud).
Bayangkan betapa ruginya seorang muslim yang rajin beribadah namun pahalanya sirna begitu saja akibat memelihara rasa benci.
Iri hati terhadap tetangga hanya akan mendatangkan kesengsaraan batin dan menjauhkan diri dari ketenangan hidup yang hakiki.
Sifat mulia seorang mukmin sejati adalah ikut merasa bahagia ketika melihat tetangganya mendapatkan limpahan karunia dari Allah.
Mari kita bersihkan hati dari penyakit hasad dengan memperbanyak rasa syukur atas segala nikmat yang ada.
Semoga Allah Ta`ala senantiasa menjaga hati kita agar selalu bersih, tenang, dan dipenuhi keberkahan dalam bertetangga.