Ilustrasi Abu Bakar dan Umar (Foto: Sindonews)
Terasmuslim.com - Kisah persahabatan antara Nabi Muhammad SAW dan Abu Bakar Ash-Shiddiq merupakan lambang loyalitas tertinggi dalam sejarah peradaban Islam.
Hubungan erat keduanya bukan sekadar pertemanan biasa, melainkan jalinan spiritual yang diikat oleh rasa cinta karena Allah SWT.
Sejak masa muda sebelum datangnya wahyu kerasulan, Abu Bakar telah mengenal keluhuran akhlak mulia yang dimiliki oleh sang Al-Amin.
Ketika risalah Islam mulai didakwahkan, Abu Bakar tanpa ragu sedikit pun langsung membenarkan dan memeluk agama suci ini.
Pengorbanan harta dan jiwa secara totalitas menjadi bukti nyata bagaimana Abu Bakar menaruh ridha penuh pada perjuangan kekasih Allah.
Puncak kebersamaan mereka yang paling mendebarkan dan penuh hikmah terjadi saat peristiwa besar hijrah menuju Madinah.
Di dalam kesunyian dan kesempitan Gua Tsur, ketakutan manusiawi sempat menyelimuti hati Abu Bakar demi keselamatan nyawa sang Nabi.
Allah SWT mengabadikan momen ketenteraman jiwa yang diberikan Rasulullah kepada sahabatnya itu dalam untaian suci ayat Al-Qur`an.
Melalui Surat At-Taubah ayat 40, Allah menegaskan kehadiran-Nya yang mahadekat di tengah kesunyian persembunyian dua sahabat sejati tersebut.
"...sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di kala dia berkata kepada sahabatnya, `Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah bersama kita.`" (QS. At-Taubah: 40)
Kalimat penyejuk dari lisan Nabi tersebut seketika meruntuhkan segala kegelisahan dan menggantinya dengan sakinah yang menghujam dalam dada.
Begitu besarnya cinta Abu Bakar, hingga beliau rela tubuhnya disengat binatang berbisa demi menjaga tidur lelap Rasulullah di pangkuannya.
Ikatan suci ini terus bertahan melewati berbagai badai ujian dakwah, peperangan, hingga menjelang detik-detik wafatnya teladan agung umat manusia.
Rasulullah SAW bahkan secara khusus mengistimewakan kedudukan Abu Bakar di atas seluruh sahabat lainnya melalui sebuah hadis sahih.
Beliau menegaskan bahwa andai diperbolehkan memilih seorang kekasih dekat selain Allah, maka nama Abu Bakar yang akan berada di urutan teratas.
"Amma ba’du, wahai manusia, andai aku boleh mengambil seorang khalil (kekasih dekat) di bumi ini, niscaya aku akan mengambil Abu Bakar sebagai khalilku." (HR. Bukhari)