• KEISLAMAN

3 Penyebab Siksa Kubur yang Sering Dianggap Sepele, Nomor 1 Paling Sering Dilakukan

Vaza Diva Fadhillah Akbar | Sabtu, 18/07/2026
3 Penyebab Siksa Kubur yang Sering Dianggap Sepele, Nomor 1 Paling Sering Dilakukan Ilustrasi - kuburan (Foto: AI)

Jakarta, Terasmuslim.com - Siksa kubur merupakan salah satu perkara gaib yang wajib diimani oleh setiap muslim.

Dalam sejumlah hadis sahih, Rasulullah SAW menjelaskan bahwa ada amalan atau perbuatan yang tampak ringan di mata manusia, tetapi dapat menjadi penyebab seseorang mendapatkan azab di alam kubur.

Peringatan tersebut menjadi pengingat agar setiap muslim lebih berhati-hati dalam menjaga kebersihan, lisan, maupun hubungan dengan sesama.

Berikut tiga penyebab siksa kubur yang sering dianggap sepele, lengkap dengan dalilnya.

1. Tidak Bersuci dengan Baik Setelah Buang Air Kecil

Menjaga kesucian dari najis merupakan syarat sah ibadah, terutama salat. Namun, masih banyak orang yang kurang memperhatikan kebersihan setelah buang air kecil.

Rasulullah SAW bersabda:

إِنَّهُمَا لَيُعَذَّبَانِ، وَمَا يُعَذَّبَانِ فِي كَبِيرٍ، أَمَّا أَحَدُهُمَا فَكَانَ لَا يَسْتَتِرُ مِنَ الْبَوْلِ، وَأَمَّا الْآخَرُ فَكَانَ يَمْشِي بِالنَّمِيمَةِ

Artinya: "Sesungguhnya kedua penghuni kubur ini sedang diazab. Keduanya diazab bukan karena perkara yang dianggap besar oleh manusia. Salah satunya karena tidak menjaga diri dari percikan air kencing, sedangkan yang lainnya karena suka mengadu domba." (HR. Bukhari dan Muslim).

Para ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud bukan sekadar terkena percikan air kencing, melainkan lalai membersihkan najis sehingga berdampak pada tidak sahnya ibadah yang dikerjakan.

2. Suka Mengadu Domba (Namimah)

Mengadu domba atau namimah adalah menyampaikan perkataan seseorang kepada orang lain dengan tujuan merusak hubungan di antara keduanya. Perbuatan ini sering dianggap hanya sebagai obrolan biasa, padahal termasuk dosa besar.

Hadis yang sama menjelaskan bahwa salah satu penghuni kubur diazab karena kebiasaannya menyebarkan adu domba.

Rasulullah SAW bersabda:

وَأَمَّا الْآخَرُ فَكَانَ يَمْشِي بِالنَّمِيمَةِ

Artinya: "Sedangkan yang lainnya suka berjalan ke sana kemari untuk mengadu domba." (HR. Bukhari dan Muslim).

Dalam kehidupan sehari-hari, namimah dapat berupa menyebarkan ucapan orang lain, memprovokasi perselisihan, atau menyampaikan informasi yang memicu permusuhan.

3. Berutang tetapi Tidak Berniat Melunasinya

Islam sangat menekankan pentingnya menunaikan hak orang lain, termasuk utang. Rasulullah SAW bahkan memberikan peringatan keras kepada orang yang sengaja tidak melunasi utangnya padahal mampu.

Beliau bersabda:

مَنْ أَخَذَ أَمْوَالَ النَّاسِ يُرِيدُ أَدَاءَهَا أَدَّى اللَّهُ عَنْهُ، وَمَنْ أَخَذَهَا يُرِيدُ إِتْلَافَهَا أَتْلَفَهُ اللَّهُ

Artinya: "Barang siapa mengambil harta orang lain dengan niat mengembalikannya, Allah akan membantunya melunasi. Namun barang siapa mengambilnya dengan niat merusaknya (tidak mengembalikannya), Allah akan membinasakannya." (HR. Bukhari).

Selain itu, Rasulullah SAW pernah menunda menyalatkan jenazah seseorang hingga dipastikan utangnya telah ditanggung atau dilunasi.

Hal ini menunjukkan besarnya perhatian Islam terhadap hak-hak sesama manusia.