• KEISLAMAN

Cara Bijak Menghadapi Teman yang Suka Menyakiti

Yahya Sukamdani | Kamis, 04/06/2026
Cara Bijak Menghadapi Teman yang Suka Menyakiti Ilustrasi foto situasi seseorang yang diejek orang lain

Terasmuslim.com - Menjalin ikatan pertemanan tidak selamanya berjalan mulus dan sering kali diuji oleh lisan atau sikap yang melukai perasaan.

Menghadapi teman yang suka menyakiti hati tentu membutuhkan kesabaran ekstra agar kita tidak terjebak dalam lingkaran dendam yang serupa.

Islam mengajarkan umatnya untuk tidak membalas keburukan dengan keburukan, melainkan dengan cara yang jauh lebih mulia dan bermartabat.

Sikap terbaik pertama yang dicontohkan oleh Al-Qur`an adalah memaafkan dan membalas perlakuan kasar mereka dengan kebaikan yang tulus.

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur`an Surat Fussilat ayat 34 mengenai kedahsyatan membalas keburukan dengan sikap yang terbaik.

"Dan tidaklah sama kebaikan dengan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, sehingga orang yang ada rasa permusuhan antaramu dan dia akan seperti teman setia." (QS. Fussilat: 34)

Membalas dengan kebaikan bukan berarti kita lemah, melainkan menunjukkan kematangan iman dan keluhuran akhlak seorang mukmin sejati.

Selain itu, memberi nasihat secara empat mata dengan bahasa yang santun bisa menjadi pembuka pintu hidayah bagi hati mereka yang keras.

Rasulullah SAW selalu mengingatkan umatnya untuk menjaga lisan agar tidak menjadi sumber petaka bagi perasaan orang lain di sekitarnya.

Dalam sebuah hadis sahih, beliau menegaskan keharusan seorang Muslim untuk memberikan rasa aman kepada sesamanya dari gangguan lisan.

"Seorang Muslim adalah orang yang lidah dan tangannya tidak menyakiti Muslim lain." (HR. Bukhari dan Muslim)

Mendoakan kebaikan secara diam-diam untuk teman tersebut juga menjadi hujah atas ketulusan hati kita yang merindukan kedamaian.

Namun, jika segala upaya kebaikan telah diabaikan dan sikapnya justru semakin merusak kesehatan mental serta mengganggu ibadah kita, membatasi interaksi adalah hal yang bijak.

Membuat jarak yang sehat bukan berarti memutus tali silaturahmi, melainkan upaya menjaga hati agar tidak terus-menerus mengumbar dongkol.

Ingatlah bahwa setiap ujian melalui luka hati yang kita hadapi dengan sabar akan menjadi penggugur dosa-dosa di masa lalu.

Mari kita jadikan momentum pahit ini untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT yang Maha Menyembuhkan segala luka lara.