Ilustrasi foto bermain social media
Terasmuslim.com - Era digital membawa disrupsi besar yang menguji ketahanan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Media Islami menyoroti maraknya hoaks, ujaran kebencian, dan polarisasi digital sebagai ancaman nyata bagi persatuan kita.
Tantangan ini menuntut umat Muslim untuk merefleksikan kembali nilai Pancasila melalui kacamata syariat Islam yang luhur.
Sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa, kini ditantang oleh gempuran paham materialisme dan kebebasan tanpa batas di ruang siber.
Padahal, Islam mengajarkan bahwa setiap aktivitas digital kita tidak luput dari pengawasan Allah SWT yang Maha Melihat.
Allah SWT menegaskan dalam Al-Qur`an bahwa setiap pendengaran, penglihatan, dan hati akan dimintai pertanggungjawabannya kelak.
"Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui karena pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya." (QS. Al-Isra: 36)
Sementara itu, sila kedua tentang kemanusiaan yang adil dan beradab sering kali terkikis oleh budaya jempol tajam netizen.
Etika bermedia sosial atau cyber-ethics yang santun kini menjadi barang langka akibat hilangnya kontrol nilai akhlakul karimah.
Rasulullah SAW telah memberikan rambu-rambu tegas agar lisan dan perbuatan seorang Muslim tidak merugikan orang lain di sekitarnya.
Dalam sebuah hadis, beliau mengingatkan bahwa keselamatan seorang Muslim sejati diukur dari bagaimana ia menjaga lisan serta tangannya.
"Seorang Muslim yang sejati adalah orang yang kaum Muslimin lainnya selamat dari gangguan lidah dan tangannya." (HR. Bukhari)
Sila ketiga, Persatuan Indonesia, juga kerap digoyang oleh algoritma media sosial yang memecah belah dan memicu konflik sosial.
Oleh karena itu, integrasi nilai Pancasila dan prinsip tabayun (konfirmasi) dalam Islam menjadi perisai utama di era digital ini.
Mari kita jadikan teknologi sebagai sarana mempererat persaudaraan, menyebarkan kedamaian, dan merawat keutuhan NKRI secara Islami.
Semoga Allah SWT senantiasa membimbing jempol dan hati kita agar selalu bijak dalam bermedia sosial demi kemaslahatan bangsa.