• KEISLAMAN

Fenomena Healing dan Self Love Perspektif Islam

Yahya Sukamdani | Kamis, 04/06/2026
Fenomena Healing dan Self Love Perspektif Islam Ilustrasi foto liburan

Terasmuslim.com - Istilah healing dan self-love kini menjadi tren gaya hidup yang sangat populer di kalangan generasi muda untuk mengatasi kelelahan mental.

Banyak orang mengartikan konsep ini dengan liburan mewah atau memanjakan diri demi melepaskan segala beban pikiran yang menumpuk.

Islam sebagai agama yang sempurna sebenarnya telah lama mengenalkan konsep ketenangan jiwa dan cara mencintai diri secara hakiki.

Dalam pandangan Islam, self-love bukanlah bentuk egoisme atau pemenuhan syahwat, melainkan wujud syukur atas penciptaan fisik dan psikis dari Sang Khalik.

Mencintai diri sendiri berarti menjaga jiwa tetap bersih dari penyakit hati serta menuntunnya agar selamat di dunia dan akhirat.

Allah SWT secara tegas mengingatkan manusia dalam Al-Qur`an untuk selalu menjaga diri dan keluarga dari kesengsaraan yang abadi.

"Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka..." (QS. At-Tahrim: 6)

Sementara itu, fenomena healing dalam Islam tidak selalu diartikan dengan pergi menjauh ke tempat-tempat wisata yang menguras dompet.

Bentuk healing yang paling utama dan gratis bagi seorang mukmin adalah dengan menghadapkan hati serta bersujud pasrah kepada Allah SWT.

Rasulullah SAW sendiri selalu menjadikan ibadah shalat sebagai sarana utama untuk mengistirahatkan jiwa dari kepenatan urusan duniawi.

Dalam sebuah hadis sahih, beliau bersabda kepada sahabat Bilal bin Rabah saat waktu shalat telah tiba untuk mencari kedamaian.

"Wahai Bilal, berdirilah. Istirahatkanlah kami dengan mendirikan shalat." (HR. Abu Dawud)

Al-Qur`an juga menegaskan bahwa obat penawar terbaik bagi hati yang sedang gundah gulana adalah dengan memperbanyak mengingat-Nya.

Melalui Surat Ar-Ra`d ayat 28, Allah SWT memberikan garansi ketenangan bagi setiap hamba yang melabuhkan hatinya dalam zikir.

"(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram." (QS. Ar-Ra`d: 28)

Oleh karena itu, liburan boleh saja dilakukan sejauh bertujuan untuk mentadaburi keindahan alam dan menyegarkan kembali semangat beribadah.

Menyelaraskan tren psikologi modern dengan tuntunan syariat akan melahirkan kesehatan mental yang kokoh dan kebahagiaan hidup yang berkah.