Ilustrasi bahtera Nabi Nuh AS (Foto: Kompas)
Terasmuslim.com - Kisah banjir besar pada masa Nabi Nuh AS merupakan salah satu peristiwa paling dahsyat dalam sejarah umat manusia.
Peristiwa ini bukan sekadar cerita tentang kehancuran kaum yang ingkar, melainkan sebuah teguran keras bagi peradaban.
Dalam perspektif Islam, bencana besar tersebut terjadi akibat akumulasi dosa manusia dan pengabaian terhadap peringatan ilahi.
Al-Qur`an merekam dengan sangat dramatis bagaimana air bah datang menggulung bumi dari segala penjuru.
"Maka Kami bukakan pintu-pintu langit dengan (menurunkan) air yang tumpah ruah, dan Kami jadikan bumi memancarkan mata air-mata air, maka bertemulah air-air itu untuk satu urusan yang sungguh telah ditetapkan." (QS. Al-Qamar: 11-12)
Ayat tersebut memperlihatkan bagaimana alam semesta tunduk sepenuhnya pada perintah Allah untuk membersihkan kezaliman.
Nabi Nuh AS kemudian diperintahkan membangun sebuah bahtera besar yang tidak hanya mengangkut manusia yang beriman.
Allah juga memerintahkan beliau membawa sepasang dari setiap jenis hewan demi menjaga keberlangsungan ekosistem bumi.
Langkah penyelamatan satwa ini menjadi bukti konkret bahwa Islam sangat peduli terhadap pelestarian keanekaragaman hayati.
Sebuah hadis riwayat Bukhari mengisahkan keteguhan Nabi Nuh dalam berdakwah serta merawat seluruh isi bahtera selama berbulan-bulan di atas air.
Melalui kisah ini, kita diajarkan bahwa kerusakan moral manusia sering kali berdampak langsung pada ketidakseimbangan alam sekitar.
Ketika kesombongan manusia memuncak, alam dapat menjelma menjadi instrumen penegak keadilan atas izin-Nya.
Banjir Nabi Nuh menjadi pengingat abadi bahwa bumi memiliki batas toleransi terhadap keserakahan dan kezaliman makhluknya.
Kini, di tengah ancaman krisis iklim global, manusia modern harus mengambil ibrah untuk kembali menjaga hubungan harmonis dengan alam.
Semoga kita mampu merawat bumi ini dengan amanah, sehingga terhindar dari murka Allah yang mewujud melalui bencana alam.