• KEISLAMAN

Tafsir Surat Al-Ikhlas dan Relevansi Sila Pertama Pancasila

Yahya Sukamdani | Kamis, 04/06/2026
Tafsir Surat Al-Ikhlas dan Relevansi Sila Pertama Pancasila Al Quran (foto:islampos)

Terasmuslim.com - Surat Al-Ikhlas merupakan salah satu surat paling esensial dalam Al-Qur`an yang memuat penegasan mutlak tentang kemurnian akidah dan konsep ketauhidan.

Secara harfiah, surat yang menempati urutan ke-112 ini merangkum pembatasan sifat-sifat Allah SWT dari segala bentuk kesyirikan, sekutu, maupun penyerupaan dengan makhluk.

Tafsir ayat pertama secara gamblang menyatakan bahwa Allah adalah satu-satunya Tuhan yang berhak disembah, tunggal dalam zat, sifat, maupun segala perbuatan-Nya.

"Katakanlah (Muhammad), `Dialah Allah, Yang Maha Esa.`" (QS. Al-Ikhlas: 1)

Ketunggalan ini kemudian dipertegas pada ayat berikutnya yang menjelaskan bahwa hanya kepada-Nya seluruh alam semesta bergantung dan memohon segala hajat hidup.

Relevansi nilai tauhid yang terkandung dalam Al-Ikhlas ini berakar sangat kuat dalam sendi kehidupan berbangsa melalui rumusan sila pertama Pancasila.

Frasa "Ketuhanan Yang Maha Esa" dalam ideologi negara kita bukanlah sebuah konsep kosmetik, melainkan refleksi teologis yang sejalan dengan fondasi Islam.

Para ulama perumus bangsa sengaja menempatkan tauhid di garda terdepan sebagai poros utama yang menjiwai seluruh sila yang mengikutinya.

Rasulullah SAW dalam sebuah hadis sahih bahkan menyetarakan kedudukan Surat Al-Ikhlas ini dengan sepertiga dari keseluruhan isi kandungan Al-Qur`an.

"Apakah seseorang di antara kamu tidak mampu membaca sepertiga Al-Qur’an dalam satu malam?" (HR. Bukhari)

Dengan demikian, mengamalkan sila pertama bagi seorang Muslim Indonesia berarti menjalankan konsekuensi logis dari keimanan yang lurus terhadap Allah SWT.

Negara menjamin kebebasan beragama justru karena dasar ketuhanan ini diadopsi untuk menangkal paham ateisme yang merusak fitrah manusia.

Melalui keselarasan ini, umat Islam dipandu untuk menjadi warga negara yang saleh secara spiritual sekaligus memiliki komitmen sosial yang tinggi.

Ketaatan kepada Sang Pencipta yang Esa idealnya melahirkan rasa persaudaraan dan keadilan yang kokoh dalam menjaga keutuhan bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Oleh karena itu, memisahkan Pancasila dari nilai-nilai ketauhidan Surat Al-Ikhlas sama saja dengan mengabaikan sejarah perjuangan spiritual para pendahulu bangsa.