• KISAH

Nabi Sulaiman dan Semut, Pelajaran Kerendahan Hati Penguasa

Yahya Sukamdani | Selasa, 27/10/2026
Nabi Sulaiman dan Semut, Pelajaran Kerendahan Hati Penguasa Ilustrasi semut (Foto: Unsplash/Pabir Kashyap)

Terasmuslim.com - Kisah pertemuan agung antara Nabi Sulaiman Alaihissalam dan seekor semut merekam lembaran sejarah penuh keteladanan.

Nabi Sulaiman AS adalah seorang nabi sekaligus raja agung yang dianugerahi kekuasaan luar biasa atas jin, manusia, dan hewan.

Beliau diberikan mukjizat istimewa berupa kemampuan memahami bahasa seluruh binatang yang ada di muka bumi ini.

Suatu hari, Nabi Sulaiman memimpin bala tentaranya yang megah berjalan melintasi sebuah lembah yang dikenal sebagai lembah semut.

Di tempat itulah seekor semut kecil menyerukan kepada kawanannya agar segera masuk ke sarang masing-masing.

Semut tersebut khawatir seluruh koloni semut akan terinjak tanpa sengaja oleh rombongan besar Nabi Sulaiman yang sedang lewat.

Peringatan bijak dari seekor semut kecil ini terdengar jelas oleh telinga Nabi Sulaiman AS dari jarak yang cukup jauh.

Mendengar seruan tersebut, Nabi Sulaiman tersenyum lebar karena merasa takjub dan kagum atas kepedulian sang semut.

Beliau kemudian menghentikan langkah pasukannya agar tidak ada satupun makhluk kecil di tanah yang tersakiti oleh bala tentara.

Sikap terpuji ini menunjukkan bahwa kebesaran kekuasaan tidak membuat Nabi Sulaiman menjadi sombong di hadapan makhluk ciptaan Allah.

Dalam Al-Qur`an Surah An-Naml ayat 18, Allah mengabadikan momen ketika semut memperingatkan kawanannya agar tidak terinjak oleh Nabi Sulaiman dan tentaranya.

Sebagai wujud rasa syukur atas nikmat tersebut, Nabi Sulaiman segera memanjatkan doa agar senantiasa menjadi hamba yang saleh.

Rasulullah SAW bersabda mengenai keutamaan sifat rendah hati dalam hadis riwayat Muslim: "Dan tidaklah seseorang merendahkan diri karena Allah, melainkan Allah akan mengangkat derajatnya."

Peristiwa inspiratif ini diabadikan secara abadi di dalam Al-Qur`an sebagai pedoman berharga bagi seluruh umat manusia sepanjang masa.

Kisah agung ini mengajarkan kepada kita bahwa manusia paling berkuasa sekalipun wajib memiliki sifat tawaduk dan welas asih kepada sesama makhluk.