Ilustrasi kisah inspiratif Rasulullah saat - lafadz Nabi Muhammad SAW (Foto: Pexels/Necati Ömer Karpuzoğlu)
Terasmuslim.com - Peristiwa sakit hingga wafatnya Nabi Muhammad SAW pada bulan Rabiul Awal tahun 11 Hijriah menjadi duka terdalam bagi seluruh umat Islam.
Kondisi kesehatan Rasulullah SAW mulai menurun drastis setelah beliau kembali dari ziarah di pemakaman Baqi dan menunaikan Haji Wada`.
Atas persetujuan dari para istri beliau, Rasulullah SAW memilih untuk dirawat di kamar Aisyah Radhiyallahu `Anha selama masa sakitnya.
Meski tubuhnya digempur demam yang sangat tinggi, Rasulullah SAW tetap memaksakan diri untuk memimpin shalat berjamaah di Masjid Nabawi.
Ketika fisik beliau sudah tidak mampu lagi melangkah ke masjid, Nabi menunjuk Abu Bakar Ash-Shiddiq untuk menggantikan posisinya sebagai imam shalat.
Di sela-sela sakitnya, Rasulullah SAW tak henti-hentinya mengingatkan umatnya untuk senantiasa menjaga shalat dan memperlakukan hamba sahaya dengan baik.
Aisyah Radhiyallahu `Anha memangku kepala Rasulullah SAW dengan penuh kasih sayang saat detik-detik sakaratul maut menghampiri beliau.
Dalam keadaan lemas, Nabi membasahi wajahnya dengan air dan bersabda: "Laa ilaaha illallah, sesungguhnya kematian itu memiliki sakarat (rasa sakit)." (HR. Bukhari).
Rasulullah SAW kemudian menatap ke arah atas seraya mengucapkan kalimat terakhirnya: "Ya Allah, bersama Teman yang Maha Tinggi (Ar-Rafiq Al-A`la)." (HR. Bukhari).
Berita wafatnya Manusia Teragung ini seketika menyelimuti kota Madinah dengan kesedihan yang amat mendalam hingga membuat para sahabat terguncang.
Abu Bakar Ash-Shiddiq tampil menenangkan umat dengan membacakan ayat Al-Qur`an tentang kepastian kematian bagi setiap manusia, termasuk para rasul.
Allah Ta`ala berfirman: "Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa rasul." (QS. Ali `Imran [3]: 144).
Sesuai dengan petunjuk nabi, jasad mulia Rasulullah SAW dimandikan dan dikafani oleh pihak keluarga dekat tanpa melepas pakaian utamanya.
Kaum muslimin kemudian menshalatkan jenazah Rasulullah SAW secara bergantian tanpa ada seorang pun yang bertindak sebagai imam.
Beliau dimakamkan tepat di bawah dipan tempat beliau menghembuskan napas terakhirnya di dalam kamar Aisyah Radhiyallahu `Anha di Madinah.