• KEISLAMAN

Duka Tahun Kesedihan Dan Hiburan Agung Perjalanan Isra Mikraj

Yahya Sukamdani | Minggu, 13/09/2026
Duka Tahun Kesedihan Dan Hiburan Agung Perjalanan Isra Mikraj Ilustrasi foto shalat berjamaah

Terasmuslim.com - Tahun kesepuluh kerasulan menjadi fase paling memilukan dalam kehidupan Rasulullah SAW hingga dikenal sebagai ‘Amul Huzni.

Ujian diawali dengan wafatnya sang paman, Abu Thalib, yang selama puluhan tahun menjadi benteng pelindung dari ancaman Quraisy.

Tidak berselang lama, duka Rasulullah SAW semakin mendalam setelah istri tercinta, Khadijah RA, berpulang ke rahmatullah.

Khadijah RA adalah sosok yang pertama kali beriman, menenangkan jiwa beliau, dan menginfakkan seluruh hartanya demi perjuangan dakwah.

Dua kehilangan besar ini dimanfaatkan oleh kaum kafir Quraisy untuk meningkatkan tekanan dan tekanan fisik terhadap Rasulullah SAW.

Aisyah RA meriwayatkan dalam hadis Bukhari bahwa Rasulullah RA menyebut cobaan pada periode ini lebih berat daripada peristiwa Perang Uhud.

Di tengah kesedihan mendalam dan penolakan dakwah di Thaif, Allah SWT memberikan hiburan berupa mukjizat Isra Mikraj.

Perjalanan malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa hingga naik ke Sidratul Muntaha menjadi bukti keagungan kekuasaan-Nya.

Peristiwa ajaib ini diabadikan secara rinci oleh Allah SWT dalam Surah Al-Isra ayat 1: “Mahasuci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya.”

Di Sidratul Muntaha, Rasulullah SAW menerima perintah shalat lima waktu secara langsung tanpa perantara Malaikat Jibril.

Perintah shalat menjadi hadiah terbesar dari langit yang berfungsi sebagai penyejuk hati dan sarana komunikasi langsung antara hamba dan Pencipta.

Anas bin Malik RA meriwayatkan dalam hadis Muslim bahwa shalat semula diwajibkan lima puluh waktu hingga akhirnya diringankan menjadi lima waktu sehari semalam.

Kabar mengenai Isra Mikraj menjadi ujian keimanan bagi penduduk Makkah, di mana Abu Bakar Ash-Shiddiq membenarkannya tanpa ragu sedikit pun.

Melalui peristiwa ini, Allah SWT menegaskan bahwa setelah kesulitan hidup yang berat pasti ada pertolongan dan kemuliaan yang menanti.

Kisah ‘Amul Huzni dan Isra Mikraj mengajarkan umat Islam agar senantiasa menjadikan shalat sebagai tempat bersandar utama saat menghadapi cobaan kehidupan.