• KISAH

Tangisan Umar bin Khattab dan Hakekat Keabadian Siksaan Neraka

Yahya Sukamdani | Jum'at, 11/09/2026
Tangisan Umar bin Khattab dan Hakekat Keabadian Siksaan Neraka Ilustrasi foto beramal tapi masuk neraka

Terasmuslim.com - Kisah pilu dan penuh keinsafan datang dari sahabat Nabi, Umar bin Khattab radhiyallahu `anhu.

Suatu hari, sang Amirul Mukminin berjalan melewati sebuah gundukan pasir yang sangat luas.

Melihat jutaan butiran pasir tersebut, air mata beliau menetes hingga menangis tersedu-sedu.

Para sahabat yang mendampinginya lantas bertanya mengenai alasan di balik tangisan mendalam sang khalifah.

Umar menjelaskan bahwa ingatan beliau tertuju pada pedihnya nasib para penghuni neraka Jahannam.

Beliau membayangkan seandainya masa hukuman di neraka dihitung sebanyak jumlah butiran pasir tersebut.

Jika ada batas hitungan, para penghuni neraka tentu masih memiliki harapan akan datangnya akhir siksaan.

Mereka akan terus menantikan detik demi detik berakhirnya masa hukuman tersebut dengan penuh kesabaran.

Namun realita akhirat tidaklah demikian karena keabadian neraka tidak memiliki garis akhir sama sekali.

Allah SWT menegaskan keabadian siksa neraka bagi orang kafir dalam Surah An-Nisa ayat 169 yang berbunyi: “Kecuali jalan ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya.”

Keabadian ini juga dipertegas dalam Surah Al-Ahzab ayat 65 yang menyatakan bahwa mereka tidak akan menemukan pelindung maupun penolong.

Rasulullah SAW pun menggambarkan dahsyatnya azab neraka melalui hadis riwayat Bukhari dan Muslim bahwa api dunia hanyalah satu dari 70 bagian api Jahannam.

Kisah yang dicatat oleh Ibnu Rajab Al-Hanbali ini menjadi teguran keras bagi setiap mukmin agar tidak meremehkan dosa.

Kesadaran akan keabadian neraka seharusnya mampu menumbuhkan rasa takut (khauf) dan mendorong peningkatan ketakwaan.

Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan hidayah-Nya serta menyelamatkan kita semua dari siksa api neraka.