• KISAH

Refleksi Akhir Hayat, Hikmah di Balik Kisah Wafatnya Para Utusan Allah

Yahya Sukamdani | Senin, 20/04/2026
Refleksi Akhir Hayat, Hikmah di Balik Kisah Wafatnya Para Utusan Allah Ilustrasi lafadz Nabi Muhammad SAW (Foto: Pexels/Necati Ömer Karpuzoğlu)

Terasmuslim.com - Kematian adalah kepastian yang menyapa setiap makhluk bernyawa, termasuk para Nabi yang merupakan manusia paling mulia di muka bumi.

Al-Qur`an dalam Surat Ali Imran ayat 144 menegaskan bahwa Nabi Muhammad SAW adalah seorang rasul yang juga akan mengalami kematian seperti rasul sebelumnya.

Kisah wafatnya Nabi Adam AS diawali dengan pemberian wasiat kepada putra-putranya setelah beliau mencicipi usia yang sangat panjang di dunia.

Nabi Idris AS memiliki kisah unik di mana beliau dicabut nyawanya di langit keempat setelah memohon untuk melihat dahsyatnya alam akhirat.

Kematian Nabi Ibrahim AS terjadi dengan penuh ketenangan setelah beliau didatangi oleh Malaikat Maut dalam wujud seorang tamu yang sangat santun.

Nabi Daud AS wafat secara mendadak pada hari Sabtu, di mana ribuan burung menaungi jenazahnya dari terik matahari sebagai bentuk penghormatan.

Kisah Nabi Sulaiman AS sangat melegenda, beliau wafat dalam posisi berdiri bersandar pada tongkatnya tanpa diketahui oleh para jin yang bekerja.

Allah SWT berfirman dalam Surat Saba ayat 14 bahwa para jin baru menyadari wafatnya Sulaiman setelah tongkatnya rapuh dimakan oleh rayap.

Nabi Musa AS sempat menampar Malaikat Maut karena kecintaannya pada ibadah, hingga Allah memberinya pilihan waktu melalui bulu seekor sapi.

Wafatnya Nabi Zakaria AS dan Nabi Yahya AS diwarnai dengan ujian yang amat berat sebagai bentuk syahid di jalan dakwah melawan kezaliman.

Nabi Muhammad SAW mengalami detik-detik wafat yang sangat mengharukan dengan kalimat terakhir "Ar-Rafiqul A’la" yang berarti kekasih yang maha tinggi.

Rasulullah SAW bersabda dalam hadist shahih bahwa Allah tidak mencabut nyawa seorang Nabi kecuali setelah diperlihatkan tempatnya di surga.

Kisah kematian para Nabi mengajarkan kita bahwa dunia hanyalah tempat persinggahan sementara menuju pertemuan yang abadi dengan Sang Pencipta.

Setiap tetes air mata para sahabat saat ditinggal wafat para Nabi menjadi bukti betapa besarnya cinta mereka kepada pembawa risalah kebenaran.

Meneladani keteguhan iman para Nabi hingga embusan napas terakhir adalah kunci bagi kita untuk meraih husnul khatimah di penghujung usia.