Ilustrasi foto kisah Nabi Yusuf AS
Terasmuslim.com - Kisah Nabi Yusuf AS merupakan potret kehidupan paling indah yang diabadikan Allah SWT secara mendalam dalam Al-Qur`an melalui satu surah khusus.
Perjalanan ini bermula dari mimpi Yusuf tentang sebelas bintang, matahari, dan bulan yang bersujud kepadanya, sebuah pertanda kenabian di masa depan.
Rasa iri hati saudara-saudaranya membuat mereka tega membuang Yusuf kecil ke dalam sumur tua di tengah padang pasir yang gersang.
Sebagaimana firman Allah dalam Surah Yusuf ayat 15, Allah memberikan ketenangan kepada Yusuf bahwa kelak ia akan mengabarkan perbuatan saudara-saudaranya itu.
Diselamatkan oleh musafir, Yusuf kemudian dijual sebagai budak di Mesir dan dibeli oleh Al-Aziz, seorang pejabat tinggi kerajaan yang kemudian merawatnya.
Ujian iman datang ketika ia digoda oleh Zulaikha, namun Yusuf memilih menjaga kehormatannya karena rasa takutnya yang luar biasa kepada Allah SWT.
Keteguhan hati Yusuf membawanya ke balik jeruji besi penjara, sebuah tempat yang ia anggap lebih baik daripada harus jatuh ke dalam kemaksiatan.
Di dalam penjara, mukjizat Nabi Yusuf dalam menafsirkan mimpi mulai nampak saat ia membantu dua rekan sepenjaranya memahami isyarat gaib.
Rasulullah SAW dalam sebuah hadits menyebutkan bahwa Yusuf AS adalah sosok yang sangat mulia, putra dari orang mulia, dan cucu dari orang mulia.
Peluang kebebasan muncul saat Raja Mesir bermimpi tentang tujuh sapi kurus memakan tujuh sapi gemuk yang tak seorang pun mampu menafsirkannya.
Yusuf memberikan solusi brilian berupa manajemen ketahanan pangan untuk menghadapi musim paceklik dahsyat yang akan melanda wilayah tersebut.
Atas kecerdasan dan kejujurannya, Raja Mesir mengangkat Yusuf sebagai menteri bendahara negara dengan otoritas penuh atas urusan logistik nasional.
Momen haru terjadi saat saudara-saudaranya datang meminta bantuan pangan tanpa menyadari bahwa menteri yang mereka hadapi adalah adik yang mereka buang.
Nabi Yusuf menunjukkan akhlak mulia dengan memaafkan mereka semua, sesuai dengan prinsip bahwa dendam tidak akan menyelesaikan masalah masa lalu.
Kisah ini berakhir dengan berkumpulnya kembali keluarga besar Nabi Ya’qub AS di Mesir, membuktikan bahwa kesabaran akan selalu berbuah manis pada akhirnya.