Ilustrasi foto tauhid
Terasmuslim.com - Makrifatullah bukan sekadar pengetahuan intelektual tentang Tuhan, melainkan pengenalan mendalam yang melibatkan seluruh getaran ruhani manusia.
Ia merupakan level tertinggi dalam perjalanan spiritual seorang hamba, di mana tabir antara pencipta dan makhluk mulai tersingkap lewat cahaya keyakinan.
Allah SWT berfirman dalam Surah Adz-Dzariyat ayat 56 bahwa tujuan penciptaan jin dan manusia semata-mata adalah untuk beribadah, yang oleh para mufasir dimaknai sebagai "untuk mengenal-Ku" (liy’arifun).
Tanpa makrifat, ibadah seseorang berisiko terjebak dalam formalitas gerakan tanpa ruh yang tidak mampu mentransformasi karakter pelakunya.
Rasulullah SAW bersabda dalam hadis qudsi yang populer di kalangan ulama bahwa Allah adalah "harta yang tersembunyi" yang rindu untuk dikenal oleh hamba-Nya.
Pintu gerbang menuju makrifat dimulai dari kesadaran diri, sebagaimana ungkapan masyhur bahwa siapa yang mengenal dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya.
Makrifat menuntut pembersihan hati dari kotoran duniawi agar cermin jiwa mampu memantulkan asma dan sifat-sifat Allah secara jernih.
Dalam Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 115, ditegaskan bahwa ke mana pun kita menghadap, di sanalah "Wajah" Allah, sebuah isyarat bagi ahli makrifat untuk selalu merasa diawasi.
Seorang arif (orang yang makrifat) melihat dunia bukan sebagai tujuan, melainkan sebagai ayat atau tanda-tanda kebesaran Sang Arsitek Semesta.
Ilmu makrifat tidak didapat hanya dari lembaran kitab, melainkan melalui ladunni atau ilham yang dihujamkan langsung ke dalam hati yang tenang.
Sebagaimana cahaya matahari yang menyinari bumi, makrifat menerangi akal budi sehingga manusia mampu membedakan yang hakiki dari yang fana.
Tingkatan ini membawa seseorang pada maqam Ihsan, yaitu menyembah Allah seolah-olah melihat-Nya, atau setidaknya merasa pasti dilihat oleh-Nya.
Efek nyata dari makrifat adalah lahirnya ketenangan batin yang absolut, karena ia percaya sepenuhnya bahwa segala sesuatu berada dalam genggaman-Nya.
Para ulama tasawuf menyebut makrifat sebagai "mencicipi" (dzauq) manisnya iman yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata namun bisa dirasakan dampaknya.
Pada akhirnya, mengenal Allah melalui makrifat adalah perjalanan seumur hidup untuk pulang kembali ke titik fitrah kemanusiaan yang paling murni.