Ilustrasi air bah
Terasmuslim.com - Kisah banjir bah pada zaman Nabi Nuh `alaihissalam merupakan salah satu sejarah terbesar yang mengajarkan tentang pembalasan atas pembangkangan aqidah.
Selama ratusan tahun Nabi Nuh berdakwah dengan penuh kesabaran, namun mayoritas kaumnya justru membalas dengan penolakan, penentangan, dan penistaan.
Melihat pembangkangan yang sudah melampaui batas, Allah Subhanahu wa Ta`ala memerintahkan Nabi Nuh untuk membuat sebuah bahtera besar di atas tanah kering.
Pembuatan bahtera tersebut diabadikan dalam Al-Qur`an Surah Hud ayat 37, di mana Allah berfirman: "Dan buatlah bahtera itu dengan pengawasan dan petunjuk wahyu Kami." (QS. Hud: 37).
Ketika perintah azab tiba, air membual dahsyat dari dalam bumi dan langit mencurahkan hujan yang sangat lebat tanpa henti.
Dahsyatnya luapan air yang menenggelamkan bumi tersebut digambarkan oleh Allah Subhanahu wa Ta`ala secara mengerikan dalam Surah Al-Qamar ayat 11–12.
Allah berfirman: "Lalu Kami bukakan pintu-pintu langit dengan (menurunkan) air yang tercurah, dan Kami jadikan bumi memancarkan mata air-mata air." (QS. Al-Qamar: 11-12).
Hanya orang-orang beriman beserta pasangan hewan yang diangkut ke dalam bahtera yang selamat dari kepungan banjir raksasa tersebut.
Bahkan anak kandung Nabi Nuh, Kan`an, menolak ajakan ayahnya dan memilih berlindung di atas gunung hingga akhirnya tewas tenggelam.
Keteguhan Nabi Nuh dalam membina umatnya di tengah ujian berat ini dipuji oleh Rasulullah SAW dalam berbagai riwayat shahih.
Dalam hadits riwayat Bukhari tentang syafaat di hari kiamat, Nabi Nuh disebutkan sebagai rasul pertama yang diutus Allah kepada penduduk bumi.
Peristiwa ini menjadi bukti nyata bahwa pertalian darah tidak dapat menyelamatkan seseorang dari azab Allah jika tanpa didasari ikatan keimanan.
Setelah air surut, bahtera Nabi Nuh akhirnya berlabuh dengan selamat di atas Bukit Judi sebagaimana termaktub dalam Surah Hud ayat 44.
Banjir bah ini menjadi pembersih bumi dari kesyirikan sekaligus titik awal peradaban baru manusia yang bertauhid kepada Allah.
Melalui sejarah agung ini, umat Islam diajak untuk senantiasa taat pada perintah Allah dan menjauhi sifat sombong atas kebenaran.