Ilustrasi ulama menyampaikan dakwah
Terasmuslim.com - Dakwah pada hakikatnya adalah sebuah lentera yang bertugas menerangi jalan dan meluruskan kiblat hidup manusia.
Tugas mulia ini bukan sekadar untuk menyenangkan telinga, melainkan untuk menggugah kesadaran iman yang terdalam.
Ketika kebenaran disampaikan secara jujur, ia sering kali terasa pahit dan menyinggung ego manusia.
Jika sebuah seruan agama hanya bertujuan membuai perasaan tanpa perbaikan, maka itu berubah menjadi panggung hiburan.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sejak awal diutus untuk menyampaikan risalah yang tegas membedakan hak dan bathil.
Allah Subhanahu wa Ta`ala berfirman dalam Al-Qur`an Surat Al-An`am ayat 70 mengenai esensi peringatan ini:
"Dan ingatkanlah (manusia) dengan Al-Qur`an itu agar masing-masing diri tidak dijerumuskan ke dalam neraka, karena perbuatannya sendiri."
Ayat tersebut menegaskan bahwa dakwah hadir untuk menyelamatkan manusia, bukan untuk sekadar memberi kenyamanan semu.
Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga pernah bersabda dengan sangat lugas mengenai kejujuran dalam berucap:
"Katakanlah yang benar meskipun itu pahit." (HR. Ahmad dan Ibnu Hibban)
Rasa tersinggung saat mendengar nasihat sering kali menjadi sinyal bahwa ada penyakit hati atau kesombongan yang terusik.
Al-Qur`an mengisahkan bagaimana kaum terdahulu begitu membenci para nabi karena ajaran mereka meruntuhkan kebiasaan buruk.
Oleh karena itu, seorang dai sejati tidak akan melunakkan hukum Allah hanya demi mengejar popularitas dan pujian manusia.
Penyampaian dakwah tentu harus tetap menggunakan cara yang bijak, santun, dan penuh dengan untaian hikmah.
Namun, esensi dari syariat agama tidak boleh dikorbankan demi menjaga perasaan manusia yang enggan diatur oleh syariat.
Kita perlu membuka hati secara lapang agar setiap teguran agama dipandang sebagai bentuk kasih sayang dari-Nya.
Semoga kita tidak menjadi golongan yang berpaling dari kebenaran hanya karena merasa terusik oleh nasehat kebaikan.