Ilustrasi - berikut ini beberapa kata-kata mutiara dari Ibnu Athaillah yang menyentuh hati (Foto: Ist)
Jakarta, Terasmuslim.com - Di tengah riuhnya kepenatan dunia modern, kompleksitas masalah hidup, dan ambisi yang sering kali membuat hati merasa lelah, manusia kerap membutuhkan oase spiritual.
Salah satu rujukan terbaik untuk menata kembali hati yang gundul dan jiwa yang gelisah adalah untaian hikmah dari ulama sufi legendaris, Syekh Ibnu Athaillah as-Syakandari.
Melalui kitab monumental-nya yang bertajuk Al-Hikam, ulama abad ke-13 asal Mesir ini berhasil merajut kata-kata mutiara yang mendalam, tajam, namun sangat lembut menyentuh sanubari.
Setiap kalimatnya berfungsi seperti cermin yang memantulkan hakikat hubungan antara seorang hamba dengan Sang Pencipta.
Sering kali kita merasa stres karena memikirkan masa depan atau hasil dari usaha kita. Ibnu Athaillah mengingatkan kita untuk tahu batas antara berusaha dan berserah diri.
"Istirahatlah dirimu dari kesibukan mengatur urusanmu. Sebab, apa yang sudah dijamin oleh selainmu (Allah) untukmu, tidak usah engkau sibuk memikirkannya."
"Keinginanmu untuk tajrid (fokus ibadah tanpa memikirkan dunia) padahal Allah masih menempatkanmu pada maqam asbab (harus bekerja mencari nafkah) adalah suatu syahwat (nafsu) yang tersembunyi. Sebaliknya, keinginanmu untuk mencari asbab padahal Allah telah menempatkanmu pada maqam tajrid adalah suatu kejatuhan dari himmah (semangat) yang tinggi."
Banyak manusia yang merasa kecewa ketika doanya belum dikabulkan. Kalimat hikmah ini menjadi obat penawar bagi mereka yang sedang menanti jawaban dari langit.
"Janganlah keterlambatan masa pemberian Allah kepadamu—padahal engkau telah bersungguh-sungguh dalam berdoa—membuatmu berputus asa. Sebab, Dia menjamin pengabulan doa bagimu sesuai dengan apa yang Dia kehendaki, bukan menurut apa yang engkau kehendaki. Dan pada waktu yang Dia kehendaki, bukan pada waktu yang engkau kehendaki."
"Kapan saja Allah membukakan pintu pemahaman bagimu tentang penolakan-Nya, maka berubahlah penolakan itu menjadi sebuah pemberian."
Manusia tidak luput dari salah, namun iblis sering membisikkan rasa putus asa. Ibnu Athaillah memberikan sudut pandang yang luar biasa tentang bagaimana menyikapi sebuah kesalahan agar berbuah kedekatan pada Allah.
"Kemaksiatan yang melahirkan rasa hina dan penyesalan (di hadapan Allah) itu jauh lebih baik daripada ketaatan yang melahirkan rasa bangga dan kesombongan."
"Janganlah suatu dosa terasa begitu besar di matamu, hingga menghalangimu dari berprasangka baik kepada Allah. Sebab, barangsiapa yang mengenal Tuhannya, ia akan melihat bahwa dosanya yang besar sekalipun masih teramat kecil di hadapan kemurahan-Nya."
Dunia sering kali mempermainkan emosi manusia. Kita bahagia saat mendapatkannya, dan hancur saat kehilangannya. Al-Hikam mengajarkan kelapangan dada melalui sudut pandang ini:
"Jika engkau ingin agar tidak dipecat (kecewa) oleh suatu jabatan atau keadaan, maka janganlah engkau menjabat suatu jabatan yang tidak abadi (yaitu keduniaan)."
"Sesuatu yang membuatmu sedih ketika kehilangan darimu, hanyalah bukti bahwa engkau kurang bersyukur saat sesuatu itu masih ada bersamamu."