Ilustrasi foto malu di tengah keramaian
Terasmuslim.com - Fenomena hilangnya rasa malu di tengah masyarakat modern kini telah mencapai tahap yang sangat memprihatinkan dan mengkhawatirkan kita semua.
Banyak orang tanpa ragu mengumbar aib, kemaksiatan, hingga urusan privat mereka ke ranah publik demi mengejar popularitas sesaat di media sosial.
Dalam pandangan Islam, runtuhnya benteng rasa malu ini bukanlah perkara sepele melainkan cerminan dari melemahnya ikatan iman di dalam dada.
Rasulullah SAW telah menegaskan kaitan erat ini melalui sabdanya, "Malu dan iman itu sesungguhnya bergandengan bersama, jika salah satunya diangkat maka hilanglah yang lainnya." (HR. Al-Hakim).
Faktor utama yang memicu fenomena ini adalah derasnya arus sekularisme yang mengikis nilai-nilai agama dari kehidupan sehari-hari manusia modern.
Ketika standar moral tidak lagi bersandar pada wahyu ilahi, manusia cenderung menghalalkan segala cara demi memuaskan hawa nafsu mereka sendiri.
Allah SWT telah mengingatkan bahaya mempertuhankan hawa nafsu ini dalam Al-Quran Surat Al-Furqan ayat 43 yang menyindir manusia yang mengikuti keinginannya tanpa batas.
Selain itu, lingkungan pergaulan yang buruk dan lingkungan digital yang toksik turut menormalisasi perilaku-perilaku yang melanggar norma kesopanan.
Seseorang yang terus-menerus melihat kemaksiatan dipuji dan diviralkan lambat laun akan kehilangan kepekaan nurani untuk membedakan mana yang pantas dan tidak pantas.
Kondisi psikologis masyarakat saat ini seolah membenarkan peringatan Nabi SAW, "Jika kamu tidak mempunyai rasa malu, maka berbuatlah sekehendakmu." (HR. Bukhari).
Hilangnya rasa malu juga dipicu oleh sifat hubbud dunya atau cinta dunia yang berlebihan, sehingga mengabaikan kehidupan akhirat yang kekal abadi.
Demi meraih materi dan pujian makhluk, manusia rela menanggalkan pakaian takwa dan kehormatan diri yang seharusnya dijaga dengan rapat.
Padahal, Allah SWT secara jelas memerintahkan hamba-Nya untuk senantifikasi menjaga pandangan dan kehormatan diri sebagaimana termaktub dalam Surat An-Nur ayat 30.
Oleh karena itu, menjaga rasa malu adalah benteng terakhir umat Islam agar tidak tergerus oleh arus kerusakan moral di akhir zaman ini.
Mari kita bentengi diri dan keluarga dengan ilmu agama serta ketakwaan agar hidayah serta rasa malu tetap bersemayam indah di dalam hati.