• KEISLAMAN

Mengapa Babi Haram Dimakan dalam Islam?

Vaza Diva Fadhillah Akbar | Sabtu, 09/05/2026
Mengapa Babi Haram Dimakan dalam Islam? Ilustrasi - hewan Babi (Foto Kemendag)

Jakarta, Terasmuslim.com - Tradisi pesta bakar batu dan pesta babi di Papua kembali menjadi perbincangan hangat di media sosial dalam beberapa waktu terakhir.

Ramainya pembahasan tersebut turut memunculkan pertanyaan dari sebagian masyarakat mengenai alasan daging babi diharamkan dalam ajaran Islam.

Dalam Islam, larangan mengonsumsi babi bukan sekadar kebiasaan turun-temurun, melainkan memiliki dasar hukum yang jelas dalam Al-Qur`an dan hadis.

Islam secara tegas mengharamkan daging babi sebagaimana tertulis dalam Surah Al-Baqarah ayat 173:

إِنَّمَا حَرَّمَ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةَ وَالدَّمَ وَلَحْمَ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ بِهِ لِغَيْرِ اللَّهِ

“Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan hewan yang disembelih dengan menyebut nama selain Allah.” (QS. Al-Baqarah: 173)

Larangan serupa juga disebutkan dalam Surah Al-Ma`idah ayat 3:

حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنْزِيرِ

“Diharamkan bagimu bangkai, darah, dan daging babi.” (QS. Al-Ma’idah: 3)

Selain itu, dalam Surah Al-An`am ayat 145 dijelaskan bahwa babi termasuk makanan yang najis:

أَوْ لَحْمَ خِنْزِيرٍ فَإِنَّهُ رِجْسٌ

“Atau daging babi, karena sesungguhnya itu adalah najis.” (QS. Al-An’am: 145)

Ayat lain yang menegaskan larangan tersebut terdapat dalam Surah An-Nahl ayat 115:

إِنَّمَا حَرَّمَ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةَ وَالدَّمَ وَلَحْمَ الْخِنْزِيرِ

“Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, dan daging babi.” (QS. An-Nahl: 115)

Para ulama menjelaskan bahwa pengharaman babi bukan hanya berkaitan dengan aspek syariat, tetapi juga menyentuh persoalan kebersihan dan kesehatan.

Babi dikenal sebagai hewan omnivora yang dapat memakan berbagai jenis makanan, termasuk kotoran dan bangkai. Karena itu, hewan tersebut dipandang tidak suci dalam ajaran Islam.

Meski demikian, Islam tetap mengajarkan umatnya untuk menghormati budaya dan tradisi masyarakat lain.

Tradisi pesta babi di Papua sendiri merupakan bagian dari adat masyarakat setempat yang memiliki nilai sosial, budaya, dan simbol kebersamaan dalam kehidupan warga adat.

Dalam kehidupan bermasyarakat, umat Islam diajarkan menjaga toleransi tanpa harus melanggar ketentuan agama.

Sikap saling menghormati inilah yang menjadi bagian penting dalam keberagaman budaya dan keyakinan di Indonesia.