Kisah seorang pendosa yang taubat (Foto: Ilustrasi AI)
Terasmuslim.com - Kisah ini merupakan salah satu narasi paling fenomenal dalam khazanah Islam tentang luasnya samudera ampunan Allah SWT.
Seorang pria dari kaum Bani Israil telah melampaui batas kemanusiaan dengan merenggut nyawa sembilan puluh sembilan orang.
Didorong oleh secercah penyesalan, ia mendatangi seorang ahli ibadah untuk bertanya apakah pintu taubat masih terbuka baginya.
Namun, jawaban pesimistis dari sang ahli ibadah justru membuatnya gelap mata hingga genaplah jumlah korbannya menjadi seratus orang.
Meski demikian, keinginan untuk berbenah tidak padam dan ia pun mencari petunjuk kepada seorang ahli ilmu yang bijaksana.
Ahli ilmu tersebut memberikan harapan baru dengan menegaskan bahwa tidak ada satu pun yang dapat menghalangi seorang hamba untuk bertaubat.
Hal ini sejalan dengan janji Allah dalam Surah Az-Zumar ayat 53 tentang larangan berputus asa dari rahmat-Nya yang meluas.
Pria itu kemudian disarankan untuk meninggalkan lingkungan lamanya yang buruk dan berhijrah menuju desa yang penduduknya saleh.
Di tengah perjalanan menuju tanah harapan tersebut, maut datang menjemputnya sebelum ia sampai ke tujuan yang diinginkan.
Perselisihan pun terjadi antara Malaikat Rahmat dan Malaikat Azab mengenai siapa yang berhak membawa ruh pria tersebut.
Hadis sahih riwayat Imam Muslim menceritakan bagaimana Allah SWT mengutus malaikat lain sebagai penengah untuk mengukur jarak perjalanan.
Atas kekuasaan-Nya, Allah memerintahkan bumi ke arah tujuannya untuk mendekat dan bumi yang ditinggalkannya untuk menjauh.
Hasil pengukuran menunjukkan bahwa posisi pria tersebut lebih dekat sejengkal saja menuju tanah ketaatan yang ia tuju.
Berdasarkan niat tulus dan langkah nyata menuju kebaikan tersebut, Allah SWT pun mengampuni seluruh dosa-dosa besarnya.
Fenomena ini mengajarkan kita bahwa taubat bukan hanya soal penyesalan lisan, melainkan tentang keberanian untuk melangkah meninggalkan kemaksiatan.