• KEISLAMAN

Pengorbanan Total Abu Bakar Ash-Shiddiq Mendampingi Nabi

Yahya Sukamdani | Selasa, 05/05/2026
Pengorbanan Total Abu Bakar Ash-Shiddiq Mendampingi Nabi Ilustrasi Abu Bakar dan Umar (Foto: Sindonews)

Terasmuslim.com - Hijrah bukan sekadar perjalanan fisik dari Makkah ke Madinah, melainkan sebuah manifestasi cinta tertinggi Abu Bakar kepada Rasulullah SAW.

Ketika perintah hijrah turun, Abu Bakar menangis bahagia karena terpilih menjadi satu-satunya pendamping setia sang kekasih Allah.

Beliau mempersiapkan segala kebutuhan perjalanan dengan teliti, termasuk dua ekor unta terbaik demi keselamatan nyawa sang Nabi.

Dalam perjalanan yang penuh risiko, Abu Bakar berjalan kadang di depan, belakang, kanan, dan kiri Nabi untuk menghalau setiap ancaman.

Ketulusan hati Abu Bakar ini diabadikan oleh Allah SWT dalam Al-Qur`an sebagai sosok "orang kedua" yang sangat istimewa.

"...sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya: `Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita`." (QS. At-Taubah: 40).

Saat bersembunyi di Gua Thaur, Abu Bakar masuk terlebih dahulu untuk memastikan tidak ada hewan berbisa yang dapat melukai Rasulullah.

Beliau menutup lubang-lubang di dinding gua dengan potongan pakaiannya hingga rela kakinya tersengat kalajengking demi tidak membangunkan tidur Nabi.

Air mata Abu Bakar menetes karena menahan sakit yang luar biasa, namun ia tetap diam mematung agar istirahat Rasulullah tidak terganggu.

Kesetiaan tanpa batas ini membuat Rasulullah SAW sangat mencintai Abu Bakar melebihi siapa pun di antara para sahabat pria lainnya.

Dalam sebuah hadis, Nabi SAW bersabda bahwa jika ia boleh mengambil seorang khalil (kekasih akrab) selain Allah, maka ia akan memilih Abu Bakar (HR. Bukhari).

Seluruh harta benda Abu Bakar dikerahkan tanpa sisa untuk kepentingan dakwah dan hijrah, menyisakan Allah dan Rasul-Nya bagi keluarganya.

Abu Bakar mengajarkan bahwa mencintai Rasulullah berarti siap mempertaruhkan nyawa, harta, dan kenyamanan demi tegaknya panji Islam.

Perjuangan beliau di padang pasir yang panas membuktikan bahwa iman yang benar akan melahirkan keberanian yang tidak masuk akal bagi logika dunia.

Tanpa pendampingan seteguh Abu Bakar, perjalanan hijrah akan terasa jauh lebih berat bagi sisi kemanusiaan Rasulullah di tengah kejaran musuh.

Kisah cinta dalam hijrah ini adalah warisan abadi yang memanggil kita untuk menempatkan Allah dan Rasul-Nya di atas segala-galanya.