Ilustrasi foto kisah Nabi Ibrahim (Foto: Ist)
Terasmuslim.com - Nabi Ibrahim Alaihissalam menunjukkan bahwa cinta kepada Allah harus berada di atas segala cinta dunia, sebagaimana tergambar dalam kisah pengorbanan yang diabadikan Al-Qur’an.
Ketika Allah memerintahkan penyembelihan putranya, Nabi Ismail Alaihissalam, ujian itu menjadi bukti nyata bahwa iman sejati lahir dari kepatuhan tanpa syarat.
Al-Qur’an menegaskan peristiwa itu dalam Surah As-Saffat ayat 102–107, saat Ibrahim berkata kepada putranya tentang mimpi yang datang sebagai perintah Allah.
Nabi Ismail menjawab dengan jiwa yang tenang, “Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu,” sebagaimana disebut dalam Surah As-Saffat ayat 102, yang menjadi simbol ridha kepada takdir Allah.
Dari dialog ayah dan anak ini, umat belajar bahwa keluarga yang beriman tidak hanya kuat dalam kasih sayang, tetapi juga teguh dalam ketaatan.
Ketika keduanya berserah diri, Allah memuji pengorbanan itu sebagai ujian yang nyata dan penuh kemuliaan, sebagaimana tafsir ulama terhadap ayat-ayat tersebut.
Penyembelihan besar akhirnya diganti Allah dengan seekor sembelihan, menegaskan bahwa rahmat Allah selalu menyertai hamba yang ikhlas.
Peristiwa ini juga menjadi dasar syariat kurban dalam Islam, yang menghidupkan semangat taat, berbagi, dan mendekat kepada Allah di hari raya Iduladha.
Allah berfirman dalam Surah Al-Hajj ayat 37 bahwa yang sampai kepada-Nya bukanlah darah dan daging kurban, melainkan ketakwaan dari orang-orang yang bertakwa.
Dalam sebuah hadist riwayat Tirmidzi, Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa kurban adalah sunnah Nabi Ibrahim, lalu beliau sendiri menjalankannya sebagai bentuk mengikuti jejak para nabi.
Kisah Ibrahim dan Ismail mengajarkan bahwa keberanian terbesar seorang hamba adalah saat mampu menundukkan keinginannya demi perintah Allah.
Ujian itu juga memperlihatkan bahwa iman tidak berhenti pada pengakuan lisan, tetapi harus dibuktikan dengan tindakan dan pengorbanan nyata.
Dalam Surah Al-Baqarah ayat 124, Allah menyebut Ibrahim sebagai imam bagi manusia setelah ia lulus dari rangkaian ujian berat, termasuk ujian keluarga dan pengorbanan.
Karena itu, Iduladha bukan sekadar seremoni penyembelihan hewan, melainkan momentum memperbarui keikhlasan dan ketaatan kepada Allah.
Dari Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, umat Islam diajak memahami bahwa pengorbanan terbesar adalah menyerahkan hati sepenuhnya kepada kehendak Allah.