Ilustrasi foto istri melayani suami
Terasmuslim.com - Rumah tangga Rasulullah SAW bukan sekadar catatan sejarah, melainkan prototipe sempurna bagi kebahagiaan abadi di dunia dan akhirat.
Sayangnya, di era modern ini, banyak umat yang lebih mengenal teori psikologi Barat daripada menyelami cara Nabi memperlakukan istri-istrinya.
Padahal, Allah SWT telah menegaskan dalam Al-Qur`an bahwa pada diri Rasulullah terdapat teladan yang sangat mulia untuk kita ikuti.
"Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah..." (QS. Al-Ahzab: 21).
Nabi Muhammad SAW adalah sosok suami yang tidak segan menunjukkan kemesraan dan penghargaan yang tinggi kepada pasangan hidup beliau.
Beliau memanggil Aisyah r.a. dengan sebutan "Humaira" atau yang kemerah-merahan pipinya sebagai bentuk kasih sayang dan romantisme yang tulus.
Dalam hadis riwayat Tirmidzi, beliau bersabda bahwa sebaik-baik kalian adalah yang paling baik perlakuannya terhadap keluarganya sendiri.
Beliau juga bukan tipe pemimpin yang otoriter, melainkan suami yang sangat ringan tangan dalam membantu urusan domestik rumah tangga.
Saat ditanya apa yang dilakukan Nabi di rumah, Aisyah menjawab bahwa beliau selalu membantu pekerjaan istrinya hingga waktu salat tiba.
Rasulullah SAW juga mengajarkan pentingnya rekreasi dan canda tawa dengan istri, seperti saat beliau mengajak Aisyah melakukan lomba lari.
Meski beliau adalah pemimpin besar, Nabi tidak pernah sekalipun menggunakan tangannya untuk memukul istri maupun pembantu di rumahnya.
Kesabaran beliau dalam menghadapi kecemburuan atau kekhilafan istri adalah teladan qawwam yang sejati tanpa sedikit pun menghina martabat.
Nabi selalu mendengarkan pendapat istri-istrinya, bahkan dalam urusan penting negara sebagaimana beliau menerima saran dari Ummu Salamah.
Teladan ini sering kali terlupakan saat ego suami merasa lebih tinggi derajatnya dan enggan melibatkan istri dalam pengambilan keputusan.
Maka, menghidupkan kembali suasana rumah tangga ala Nabi berarti mengedepankan akhlak mulia di atas kekuasaan dan tuntutan hak sepihak.
Mari jadikan setiap sudut rumah kita bergema dengan kasih sayang dan ketulusan agar keberkahan ala madrasah nubuwah hadir di tengah kita.